SORONG, sorongraya.co-Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kota Sorong, mantan wali kota dua periode, Lambert Jitmau, menyatakan bahwa Kota Sorong kini telah mampu menentukan jati dirinya sebagai daerah yang mandiri dan berkembang.
Menurut Jitmau, usia 26 tahun bagi sebuah kota ibarat generasi muda yang telah memasuki usia matang dan siap memikul tanggung jawab. Pemerintahan, kata dia, harus mampu mengelola rumah tangga kota, termasuk berbagai fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun.
“Semua yang ada di kota ini tidak jatuh dari langit. Ada pemimpin yang punya gebrakan bagus dan berani mengambil sikap,”ujarnya.
Ia menilai misi menjadikan Kota Sorong sebagai kota termaju di Tanah Papua kini semakin dikenal secara nasional. Bahkan, pemerintah pusat menyebut Papua Barat Daya, dengan Kota Sorong sebagai bagian penting di dalamnya, akan berkembang lebih cepat dibanding daerah lain di kawasan tersebut.
Selama masa kepemimpinannya, Jitmau mengungkapkan sejumlah perubahan besar yang dilakukan meski dengan keterbatasan anggaran. Saat itu, APBD Kota Sorong masih berada di kisaran Rp700 miliar dan belum mencapai Rp800 miliar. Namun demikian, berbagai proyek strategis tetap direalisasikan.
Di antaranya pembangunan dan perbaikan dua jalur jalan dari Kilometer 12 hingga Kilometer 18, serta renovasi besar di Bandara DEO Sorong dengan nilai ganti rugi mencapai Rp30-40 miliar.
Ia juga mengungkapkan upayanya menghadirkan perhatian pemerintah pusat dengan mengundang Presiden Joko Widodo untuk bermalam di Kota Sorong sebanyak 14 kali. Selain itu, kunjungan dilakukan dua kali ke Bandara Deo dan dua kali ke pelabuhan.
“Tanpa langkah itu, perubahan tidak mungkin terjadi,” katanya.
Perbaikan juga dilakukan pada sektor pelabuhan. Jika sebelumnya pelabuhan hanya mampu menampung satu kapal dan kapal lainnya harus berlabuh di tengah laut, kini kapasitasnya telah ditingkatkan. Meski sempat mendapat kritik, ia tetap melanjutkan proyek tersebut demi kemajuan daerah.
Tak hanya itu, Jitmau juga melakukan reklamasi laut seluas 50 hektare yang kini menjadi salah satu ikon Papua Barat Daya. Ia membangun stadion dalam waktu delapan bulan, serta merombak dan membangun ulang seluruh kantor distrik dan puskesmas menjadi gedung dua lantai.
Dalam hal pengelolaan konflik, Jitmau menyebut selama 10 tahun kepemimpinannya, Kota Sorong hanya mengalami tiga kali aksi demonstrasi, dua di antaranya terkait kasus pembunuhan. Ia mengaku menyelesaikan persoalan tersebut dengan pendekatan kekeluargaan, termasuk memberikan bantuan Rp250-300 juta kepada keluarga korban serta mempertemukan kedua pihak yang berseteru.
Di sektor ekonomi, ia mengklaim pertumbuhan ekonomi Kota Sorong mencapai 8,7 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional saat itu.
Ke depan, Jitmau berharap para pemimpin selanjutnya dapat menanggalkan ego dan kepentingan pribadi, serta merangkul seluruh elemen masyarakat untuk bersama membangun daerah.
“Jangan datang menikmati sejarah, tapi jadilah pelaku sejarah yang menciptakan perubahan untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat Papua Barat Daya,”tutupnya (***)














