Putra Bocah 8 tahun penderita usus buntu yang dirujuk dari RSUD Raja Ampat ke RSUD Sorong
Putra Bocah 8 tahun penderita usus buntu yang dirujuk dari RSUD Raja Ampat ke RSUD Sorong
Pendidikan & Kesehatan

Pelayanan Medis RSUD Raja Ampat Semakin Memprihatinkan

Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SORONG,sorongraya.co – Pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waisai, Kabupaten Raja Ampat dinilai tak becus karena memprihatinkan pasien yang melakukan pengobatan di fasilitas pemerintah daerah itu.

RSUD Waisai ini kembali menjadi sorotan dikalangan masyarakat, disebaboan karena pelayanan medis yang asal-asalan menyebabkan pasien meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Kali ini kesalahan penanganan pasien penderita usus buntu yang terpaksa di rujuk ke RSUD Sorong, yang dialami Putra, bocah 8 tahun yang awalnya didiagnosa menderita penyakit usus buntu oleh dokter RSUD Waisai, Raja Ampat.

Namun akibat lambatnya penanganan Dokter menyebabkan usus buntu bocah 8 tahun tersebut pecah, dan harus dirujuk ke luar Waisai untung saja, nyawa Putra masih terselamatkan di rumah sakit umum daerah kota Sorong.

Menurut ayah pasien, Aditya kepada awak media di Sorong, Rabu 13 menutyrkan, menceritakan, anaknya mengeluh sakit pada bagian perut lalu dibawa ke RSUD Waisai untuk berobat, dokter menyarankan untuk di opname dengan diagnosa awal usus buntu dan hanya pembengkakan di bagian usus.

Aditya mengaku kecewa karena tidak diambil tindakan apa-apa oleh dokter, hanya diberikan suntik dan obat, namun tindakan operasi usus buntu yang di diderita anaknya tak dilakukan dokter bedah.

“Awalnya anak saya mengeluh sakit pada bagian perut, lalu saya bawa ke Puskesmas Waisai kota, kemudian dari hasil pemeriksaan di rujuk ke rumah sakit umum Raja Ampat, dari hasil pemeriksaan dokter, anak saya didiagnosa mengalami usus buntu, dan disarankan opname untuk perawatan, tapi kok tindakan operasi tidak ada, hanya di kasih obat minum dan suntik, sedangkan anak saya ini di diagnosa alami usus buntu”ungkap Aditya dengan nada kecewa kepada wartawan di RSUD Sorong.

Mirisnya, setelah 3 hari dirawat di rumah sakit Waisai, pasien disarankan dokter untuk pulang dengan status rawat jalan. Namun sehari di rumah kondisi anak Aditya semakin parah, dimana anaknya sudah tak lagi bisa berdiri karena merasakan sakit yang sangat hebat pada bagian perutnya.

Selanjutnya Aditya membawa kembali anaknya ke rumah sakit RSUD Waisai, namun bukan diambil tindakan oleh dokter, malah anaknya dirujuk ke RSUD Sorong dengan alasan kekurangan tenaga medis di rumah sakit tersebut.

“Jadi setelah 3 hari di rawat seadanya di rumah sakit, anak saya disarankan pulang oleh dokter dengan status rawat jalan. Sehari di rumah, anak saya drop dan merasakan sakit yang hebat pada bagian perutnya, sampai tidak bisa berdiri, dan tidak bisa makan, kemudian saya bawa kembali ke rumah sakit RSUD Waisai untuk mendapatkan perawatan, tapi kenyataannya lain, jutsru dari pihak rumah sakit mengatakan bahwa anak saya harus dirujuk ke Sorong, karena tenaga medis di rumah sakit tersebut kurang.”jelas Aditya.

Betapa terkejutnya Aditya setelah anaknya di bawa ke rumah sakit RSUD Sorong, dokter mengatakan bahwa kondisi usus buntu anaknya sudah pecah dan harus mendapat tindakan segera untuk di operasi.

” Saya setelah dapat rujukan, saya bawa anak saya ke Sorong, sampai di RSUD Sorong, saya Sangat kaget ternyata usus buntu anak saya sudah pecah, dan kata dokter di rumah sakit tersebut harus segera di Operasi, karena usus buntu anaknya sudah pecah sehari lalu saat masih berada di Waisai. Saya sangat kecewa dengan pelayanan medis di RSUD Waisai Raja Ampat” ungkap Aditya dengan nada kesal bercampur sedih.

Dengan kondisi pelayanan medis di RSUD Waisai, dirinya dan keluarga mengaku kapok untuk membawa keluarga mereka ke rumah sakit tersebut. Hal ini dikarenakan penangan medis di rumah sakit itu sangat-sangat tidak manusiawi.

” Ini bagaimana kita mau bawa anak atau kerabat kita ke rumah sakit RSUD Waisai kalau model penanganan pihak perawat seperti ini, saya takut keluarga saya jadi korban”ungkap Aditya.

Direktur RSUD Waisai, dr Agus yang dikonfirmasi soal buruknya pelayanan medis di tempat yang dipimpinnya tersebut belum dapat dihubungi, dimana yang bersangkutan dikabarkan sedang cuti keluar daerah. Telepon seluler sang direktur RSUD Waisai yang dihubungi wartawan pun tidak aktif.

Parahnya kondisi pelayanan medis di rumah sakit RSUD Waisai harus segera di benahi, agar nyawa pasien yang datang berobat di rumah sakit tersebut dapat tertolong.(dwi)


Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.