Ekonomi & BisnisHukum & KriminalMetroTanah Papua

Tim Universitas Brawijaya Sosialisasikan Dua Program Kepada Masyarakat Klamono

×

Tim Universitas Brawijaya Sosialisasikan Dua Program Kepada Masyarakat Klamono

Sebarkan artikel ini
Tim Satu Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya sosialisasikan program kerja kepada masyarakat. [foto: dok-tim ekspedisi ub]

KLAMONO, sorongraya.co – Tim Satu Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya sosialisasikan program kerja kepada masyarakat sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan program pertanian dan penataan lingkungan di Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Tim satu TEP UB memperkenalkan Program Demonstration Plot atau Demplot Pertanian yang akan dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Kampung Wariyau, Malabotom, dan Klawana, serta Program Penataan Landscape Kampung Wonosari, melalui pembuatan living border dengan target 300 lubang tanam.

Polling Tokoh Papua Barat Daya

Siapakah Tokoh Papua Barat Daya Yang Paling Disukai?

Ketua Tim satu TEP UB, Karuniawan Puji Wicaksono menjelaskan bahwa Program Demplot tidak hanya diarahkan pada kegiatan penanaman, tetapi juga menjadi sarana untuk menerapkan proses budidaya pertanian secara bertahap.

Tim Satu Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya sosialisasikan program kerja kepada masyarakat. [foto: dok tim eskpedisi ub]
Adapun tanaman hortikultura yang dipilih, yakni Bayam, Jagung, Pakcoy, Sawi, dan Cabai. Kegiatan mencakup persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, hingga monitoring pertumbuhan tanaman.

“Tiga lokasi yang menjadi sasaran program memiliki karakteristik dan kondisi lahan yang berbeda sehingga tahapan persiapannya dilakukan secara bertahap,” tutur Karuniawan kepada sorongraya.co. Kamis, 17 September 2026.

Selain program pertanian, Karuniawan mengaku jika Tim satu TEP UB memperkenalkan program penataan landscape di Kampung Wonosari. Salah satu bentuk kegiatan yang direncanakan adalah pembuatan living border, yaitu penataan batas atau tepian area menggunakan tanaman sehingga dapat memberikan fungsi estetika sekaligus memperbaiki tampilan lingkungan kampung.

Tanaman yang dipilih adalah tanaman tahunan, seperti rambutan, pucuk merah, matoa, tanjung, langsat, dan pinang. Program tersebut menargetkan 300 lubang tanam yang akan dikembangkan secara bertahap bersama masyarakat.

Sebelumnya, kata Karuniawan tim telah melakukan survei lokasi, pemetaan titik tanam, koordinasi dengan perangkat kampung, hingga proses pembuatan lubang tanam. Dalam pelaksanaannya, aspek kondisi lahan dan pemanfaatan ruang turut menjadi pertimbangan.

Ketua Kelompok Tani Klagulu, Sukamto, yang mengikuti kegiatan menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi hal penting dalam keberlanjutan program. Selain mendapat bantuan secara langsung, ia mengaku juga ikut dalam proses belajar untuk menyiapkan lahan serta merawat tanaman.

“Kami senang bisa ikut dalam kegiatan ini karena bukan hanya menerima bantuan, tetapi juga bisa belajar bagaimana menyiapkan lahan dan merawat tanaman yang benar. Harapannya nanti kegiatan ini bisa terus dilanjutkan bersama masyarakat.” Ujar Sukamto.

Senada disampaikan Kepala Kampung Wonosari, Agus Roni. Menurutnya, masyarakat Kampung Wonosari menyambut baik rencana tersebut. Ia mengapresiasi program yang disampaikan Tim satu TEP UB.

“Kalau lingkungan kampung ditata dan ditanami, pasti akan terlihat lebih rapi. Yang penting setelah ditanam juga harus dirawat bersama supaya tanaman bisa tumbuh dan tidak hanya bagus di awal.” Ujar Agus Roni, Kepala Kampung Wonosari

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi perhatian penting dalam program penataan landscape, bahwa keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman, tetapi juga oleh pemeliharaan setelah tanaman ditanam.

Kepala Distrik Klamono, Oktofianus mengungkapkan bahwa kegiatan praktik secara langsung membuat program lebih mudah dipahami.

Menurutnya, Kegiatan sosialisasi dan simbolis penanaman menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan program Tim satu TEP UB di Distrik Klamono. Setelah kegiatan tersebut, tim akan melanjutkan proses pengembangan demplot di Wariyau, Malabotom, dan Klawana serta penataan landscape Kampung Wonosari secara bertahap.

“Kalau hanya dijelaskan mungkin masih sulit dibayangkan, tetapi setelah melihat langsung lahannya dan ikut menanam, masyarakat jadi lebih tahu prosesnya. Semoga tanaman yang ditanam hari ini bisa tumbuh dengan baik dan hasilnya nanti bisa dirasakan bersama,” ucap Oktofianus.

Dari satu benih, satu tanaman, hingga satu lubang tanam, program ini menjadi bagian dari upaya membangun proses pertanian dan lingkungan yang dapat tumbuh bersama masyarakat Klamono.

Pada momentum tersebut, Tim satu TEP UB juga membuka ruang diskusi dengan masyarakat untuk mengetahui kondisi di lapangan, termasuk kebutuhan, potensi, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan demplot. Melalui pendekatan tersebut, program diharapkan tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi dapat menjadi kegiatan yang dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.

Pantauan media ini, kegiatan sosialisasi dihadiri oleh masyarakat, kelompok tani, perangkat kampung, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program. Sosialisasi menjadi ruang bagi tim untuk menyampaikan tujuan, tahapan kegiatan, serta bentuk keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program di lapangan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.