SORONG, sorongraya.co – Memasuki tanggal 17 Agustus, masyarakat tanah air selalu memperingati hari Proklamasi. Tanggal tersebut merupakan titik balik dari sejarah kemerdekaan Indonesia yang cukup panjang, dimana sebelumnya penduduk tanah air sempat dijajah selama bertahun-tahun.
Sekretaris Lembaga MasyarakaT Adat, Provinsi Papua Barat Daya, Fatra Mochammad Soltief mengatakan, Perjalanan Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan memang tidak sebentar. Penduduk tanah air harus merasakan penjajahan yang kejam dalam kurun waktu bertahun-tahun.
Baca: Tingkatkan Ketrampilan Masyarakat, Kilang Kasim Gelar Pelatihan Produksi Pengolahan Pangan Lokal
Bahkan setelah Proklamasi dikumandangkan pun, masih banyak perjuangan lainnya yang harus ditempuh seperti pembuatan naskah UUD 1945 dan lainnya, agar Indonesia bisa menjadi negara seperti sekarang.
Kata Fatra, bulan Agustus khususnya pada tanggal 17 adalah momentum kebangkitan, penghormatan jasa pahlawan, dan panggilan untuk berkontribusi. Hari tersebut menandai lahirnya kemerdekaan Indonesia, memperkuat rasa persatuan, serta memotivasi warga untuk membangun bangsa yang maju.
Menurutnya dihari yang penuh bersejarah ini selaku anak papua ia mengajak untuk tidak saling menghujat satu sama lain, yang nantinya dapat memperkeruh keadaan. Hal ini dapat memecah rasa persaudaraan diantara sesama anak bangsa.
Baca juga: Kasasi Mendagri dan Gubernur PBD Ditolak, Simon Petrus Baru Segera Dilantik
“Stop saling menyalahkan bagi sesama anak negri mari rajut kembali tenun kebangsaan yang telah terkoyak oleh egoisme kelompok dan golongan. Untuk Torang Semua Anak Negri yang Ada Diatas Tanah Papua Khususnya di Provinsi Papua Barat Daya Mari Perkuat Persatuan dan Kesatuan Junjung Tinggi Toleransi Antar Ummat Beragama,” tutur Fatra Soltief kepada sorongraya.co. Rabu 05 Juli 2026.
Pada kesempatan itu Fatra mengajak masyarakat Papua Barat Daya untuk saling mendukung serta membantu satu sama lain, termasuk bersama TNI – Polri bertanggungjawab terhadap stabilitas dan kondusifitas kemanan.
Ia juga mengajak untuk tidak mudah terprovokasi dengan postingan-postingan yang nantinya menimbulkan rasa kebencian, baik benci sesama suku terlebih antara agama.
“Jangan cepat terprovokasi dengan pemberitaan hoaks dan tidak bertanggungjawab diatas Negri ini. Seleksi dan cermati setiap pemberitaan yang dibagikan, jangan berikan ijin untuk orang atau kelompok tak bertanggungjawab kelompok separatis yang melakukan provokasi dan Penggalangan pergerakan untuk memanfatkan kita,” tega Fatra.
Bagi Fatra, alangkah baiknya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif yang dapat menguntungkan diri pribadi maupun orang banyak, sehingga dapat bermanfaat buat sesama.
“Mari fokus membangun dan memperkokoh keberadaan tanah papua dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.
















