SORONG, sorongraya.co-Satuan Tugas (Satgas) Makanan Bergizi Gratis (MBG) melakukan peninjauan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Malaimsimsa Klabalu yang beralamat di Kilo Meter 8, Kota Sorong.
Peninjauan tersebut dilakukan setelah Satgas menerima laporan dugaan puluhan siswa SMP Muhammadiyah Al-Amin mengalami keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (17/9/2026).
Ketua Satgas MBG, Rudy Laku, menjelaskan bahwa peninjauan dilakukan untuk memeriksa peralatan yang digunakan, proses pengolahan makanan, serta standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan di SPPG tersebut.
Selain itu, Satgas juga melakukan wawancara dengan penanggung jawab SPPG dan ahli gizi.
“Jadi ada indikasi ke situ, kita belum bisa pastikan. Kemudian langkah yang kita lakukan adalah menutup sementara SPPG Malaimsimsa Klabalu untuk dilakukan pemeriksaan. Sampel akan diambil dan dilakukan pemeriksaan. Kemudian nanti dari hasil pemeriksaan itu akan diketahui apa jawabannya, setelah itu baru diambil langkah-langkah untuk penanganan,”ujar Rudy kepada awak media di Rumah Sakit Sele Be Solu, Kamis (17/9/2026).
PEMBERITAAN SEBELUMNYA: Puluhan Siswa Diduga Keracunan MBG, 8 Siswa Dirawat di RS Sele Be Solu
Rudy mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan kapan SPPG Malaimsimsa Klabalu akan kembali dibuka.
“Nanti untuk membuka kembali, ini sesuai dengan hasil lab dan petunjuk dari MBG pusat,” terangnya.
Menurut Rudy, berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan, terdapat sejumlah jenis bakteri yang tidak dapat diperiksa di laboratorium di Sorong sehingga sampel harus dikirim ke Makassar.
“Kalau E. coli dan beberapa jenis bakteri lainnya bisa diperiksa di Sorong, tetapi ada beberapa yang tidak bisa sehingga harus dibawa ke Makassar. Jadi memang saran kita sebaiknya ke Makassar supaya dapat diketahui sebenarnya apa yang terjadi,”jelasnya.
Rudy menambahkan, pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui sumber pencemaran makanan sehingga dapat dilakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Sehingga nanti kita bisa mengambil langkah untuk pencegahan ke depannya agar tidak terjadi lagi,”katanya.
Rudy juga mengungkapkan bahwa makanan yang dibagikan kepada siswa pada hari itu merupakan makanan yang telah diproduksi sebelumnya. Untuk mencegah terjadinya kejadian serupa, pihaknya telah meminta agar makanan tersebut tidak diberikan kepada anak-anak.
“Kita berharap secepatnya. Kita tidak tahu kondisi lab di Makassar, karena mungkin lab Makassar juga tidak hanya menangani pemeriksaan dari kita, tetapi juga pemeriksaan lain dari daerah-daerah sekitar. Jadi saya juga tidak bisa memastikan kapan pemeriksaan selesai,”ujarnya.
Menurutnya, hal terpenting saat ini adalah mengetahui jenis bakteri yang diduga mencemari makanan tersebut.
“Intinya yang penting kita bisa mengetahui makanan ini tercemar oleh bakteri apa. Sehingga nanti, ketika hasil lab keluar, kami juga akan meminta pihak MBG dan mereka untuk melakukan analisis,”jelas Rudy.
Lebih lanjut, penanggung jawab SPPG dan ahli gizi memiliki peran penting dalam menganalisis hasil pemeriksaan karena mereka mengetahui secara langsung proses pembuatan makanan di SPPG tersebut.
“Karena mereka yang tahu proses pembuatan makanan di sana. Sehingga ketika diketahui bakteri apa yang mencemari makanan ini, mereka harus bisa memastikan kira-kira tercemarnya di mana, pada tahapan mana,”katanya.
Sslanjutnya, Rudy akan meminta pengelola SPPG melakukan langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.

















