SORONG, sorongraya.co – Misteri kematian Bily yang diduga merupakan karyawan PT Sorong Global Lestari masih menyisihkan tanda tanya public. Hingga kini Polres Aimas belum dapat mengungkap siapa pelaku pembunuhan pria yang jenazahnya ditemukan di dalam jurang Perkebunan Sawit.
Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam, Papua Barat-Papua Barat Daya, Abdul Kadir Loklomin pun angkat bicara. Ia meminta Polda Papua Barat Daya melakukan penyelidikan guna mengaungkap kasus kematian Bily. Menurutnya Polres Aimas diduga tak serius menangani kasus tersebut.
Abdul juga meminta agar Management PT Sorong Global Lestari tidak lepas tangan begitu saja. Ia bahkan menduga kematian Bily dilakukan oleh orang dalam persuhsaan tersebut.
Baca: Pekerja Sawit PT Sorong Global Lestari Ditemukan Tewas Dalam Jurang
“Kami meminta agar Penyidik Polres Aimas dapat menangani kasus kematian Bily hingga tuntas, apabila hal ini tidak diindahkan kami meminta agar Polda Papua Barat Daya tidak tutup mata. Kami juga meminta agar pihak perusahaan tidak lepas tangan begitu saja, meski yang bersangkutan baru saja bekerja, apalagi ia meninggal di dalam perkebunan sawit,” tegas Abdul Kadir.
Ia menilai pernyataan yang disampaikan General Manager PT Sorong Global Lestari tidak masuk akal, sebab, seseorang yang bukan karyawan perusahaan seharusnya tidak diijinkan untuk bermalam di mes milik perusahaan.
“Kalau pun diijinkan, paling tidak hanya satu malam, keesokannya sudah harus disuruh pulang atau dipulangkan. Namun anehnya almarhum Bily justru dibiarkan ikut bergabung bersama rekannya untuk bekerja selama dua hari,” pungkasya.
Baca juga: Yosep Titirlolobi “Tumbangkan” Gugatan Mendagri dan Gubernur PBD
Pria berdarah Maluku ini juga menanyakan tentang Standar Operasional Perusahaan yang diduga tidak berjalan dengan baik. Padahal, jika perusahaan berlakukan SOP dengan baik, maka besar kemungkinan akan mengurangi kesalahan yang merugikan citra perusahaan.
Abdul menegaskan jika kasus ini dibiarkan begitu saja, maka ia akan melakukan aksi agar menutup perusahaan tersebut.
“Jika ini dibiarkan kami akan melakukan aksi, karena dengan begini, bagaimana cara memanusiakan manusia. Jangan sampai kasus serupa terjadi kepada korban yang lainnya,” tegas Abdul Kadir.
Perlu diketahui Jenazah Bily pertama kali ditemukan oleh anggota Polsek Salawati, di jurang tepatnya dibalik potongan kayu. Peristiwa penemuan mayat itu terjadai pada Sabtu pekan lalu, 15 Agustus 2026.
Berdasarkan keterangan ayah kandung Bily, Stevi Sulikui, bahwa sebelumnya Bily ditawarkan untuk bekerja di perusahan Perkebunan Sawit dengan posisi Pembibitan, namun diketahui ternyata ia diposisikan di bagian Pembabatan.
Baca juga: Pertamina Gelar Program Tebus Murah Sembako di SPBU Bersama Pelanggan Setia
Mendengar keadaan anaknya yang ditempatkan pada posisi pembabatan, Ayah Bily tak tega dan langsung menjemput anaknya untuk kembali pulang. Terlebih hondphone milik anaknya itu tak dapat dihubungi.
“Kami keluarga tidak tega anak itu diposisikan di pembabatan. Apalagi kondisi yang dengan kekeringan. Kalau mereka pergi kerja dan air minum habis, terpaksa ambil di kali. Akhirnya kami keluarga menjemputnya, tetapi setelah di cari tidak ada, selama tiga hari baru ditemukan,” tutur Ayah Bily.
Hingga berita ini ditayangkan, Kasat Reskrim Polres Aimas, Iptu Erikson Sitorus belum memberikan keterangan terkait penanganan kasus kematian Bily.


















