Lifestyle Metro Tanah Papua

Masyarakat Adat Sebagai Penjaga Hutan

Bagikan ini:

SORONG,sorongraya.co- Pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan sangat penting karena dapat menjaga keberlangsungan fungsi hutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Hal tersebut disampaikan Charles Roring, Pegiat Ekowisata Pengamatan Burung di Kampung Kwau, Pegunungan Arfak, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat dalam lokakarya jurnalis bertemakan “Masyarakat Adat sebagai Penjaga Hutan” yang digelar SIEJ secara virtual pada Sabtu, 29 Januari 2022.

“ Ketika masyarakat sudah memperoleh manfaat dari aktivitas wisata, mereka bisa memperoleh pemasukan sehari-hari. Mereka dengan sendirinya juga melindungi kawasan hutan. Dampak positif tidak hanya dirasakan oleh wisatawan, namun masyarakat adat juga mendapat manfaat pemasukan untuk memenuhi kebutuhan mereka,” ujar Charles.

Lebih lanjut Charles mengatakan, selain sebagai pemandu wisata, dalam kegiatan ekowisata masyarakat adat juga memiliki peran lainnya seperti juru masak, bahkan menunjukkan bagaimana cara membuat api secara tradisional, cara mengolah sagu dan membuat alat berburu kepada wisatawan.

Ada beberapa lokasi wisata hutan yang diminati wisatawan yang didominasi turis asing, yaitu
di Kampung Kwau dan Susnguakti, Kabupaten Manokwari; dan Lembah Ases di dekat Kota
Fef, ibu Kota Kabupaten Tambrauw.

“ Lebih dari 90 persen wisatawan yang mengambil paket tur di hutan berasal dari luar negeri,” kata Charles.

Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, di Kalimantan Barat juga memiliki komitmen menjaga hutan sebagai sumber penghidupan. Bagi Masyarakat Iban Sungai Utik, hutan adalah ibu, pohon dan satwa di dalam hutan adalah penjaga kehidupan.

Menjaga hutan merupakan amanah leluhur yang harus di junjung tinggi. Atas komitmen tersebut, Komunitas Dayak Iban mendapatkan Equator Award 2019, bersama 22 komunitas lokal dan adat seluruh dunia dari UNDP (United Nations Development Programme).

Ketua Badan Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat (AMAN), Herkulanus Sutomo Manna mengatakan masyarakat Iban yang berada di Sungai Utik mendiami wilayah sekitar 10 hektar.

“ Kita bersyukur wilayah adat ini sudah diakui pemerintah di wilayah Kapuas Hulu. Tapi memang perjuangan panjang ini diperoleh dengan tidak mudah. Berliku-liku masyarakat adat ini mempertahankan wilayahnya. Saya sebagai masyarakat yang ada di komunitas Sungai Utik bersyukur kepada pendahulu untuk mempertahankan wilayah adatnya. Komunitas
Dayak Iban di Kalimantan ini perjuangannya sudah lama,” kata Sutomo.

Menurut Sutomo, masyarakat Sungai Utik juga sudah melakukan kegiatan ekowisata, baik wisata adat maupun wisata budaya. Komunitas Dayak Iban Sungai Utik, dimana Apai Janggut sebagai tuai rumah masih mendiami rumah panjang yang panjangnya 185 meter.

“ Mereka masih tinggal di situ. Secara turun temurun disitulah penularan adat budaya dilakukan. Jadi, transfer ilmu dilakukan di situ, karena mereka juga masih tinggal di rumah panjang. Dengan tinggal di rumah panjang, budaya mereka sangat terpelihara,” kata Sutomo.

Sutomo menambahkan, masyarakat Dayak Iban memiliki filosofi kuat untuk tetap menjaga kelestarian alam.

“ Filosofi masyarakat Dayak Iban bahwa tanah itu sebagai ibu, hutan sebagai bapak, lalu air adalah darah. Jika air itu rusak, darah pada tubuh rusak, maka akan sakit. Begitu juga dengan air, maka air tidak boleh dirusak. Jika tanah sebagai ibu, maka dialah yang memberikan kehidupan bagi masyarakat,” tambah Sutomo.

Lokakarya jurnalis yang diselenggarakan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) ini merupakan salah satu upaya mendorong media di Indonesia untuk bersama menggaungkan peran dan optimisme masyarakat adat di tanah air dalam menjaga dan melestarikan hutan.

Ketua Umum SIEJ, Rochimawati mengatakan, peran masyarakat adat bagi lingkungan sangat besar.

“ Saya berharap, kegiatan ini bisa membantu jurnalis dalam melakukan peliputan berita terkait pentingnya menyuarakan aspirasi dan hak masyarakat adat. Isu masyarakat adat adalah isu yang sangat penting bagi lingkungan dan penting untuk disampaikan ke publik,publik,” ujar Ochi.

Selain Charles dan Sutomo, dua pembicara lainnya yang turut hadir dalam lokakarya jurnalis adalah Direktur Eksekutif Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL) Emil Kleden dan Deputi II Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Urusan Politik Era Cahyadi.

 


Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.