Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra, atau akrabnya Tommy Soeharto. /Foto: Istimewa
Nasional

Tommy Soeharto Unggulkan Kemandirian Pangan dan Energi Jawab Kebutuhan Rakyat

Bagikan ini:
  • 34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    34
    Shares

JAKARTA,sorongraya.co – Setiap warga seyogyanya membantu Pemerintah dalam mencari solusi masalah kebutuhan energi yang hari makin sulit.

Hal itu sebagaimana dikatakan Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra, atau akrabnya Tommy Soeharto, untuk menjawab kebutuhan masyarakat maka hadirlah Partai Berkarya yang berusaha mengunggulkan kemandirian pangan dan energi guna menjawab kebutuhan dengan menggerakkan peran masyarakat untuk mencukupi kebutuhan energi keluarga melalui biogas

“Solusi ini memang sederhana, namun efektif,”kata Tommy Soeharto dalam sambutannya saat menerima kunjungan putra-putri transmigran di Saung Berkarya dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) ke-IV Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) di Hambalang Bogor. Rabu, 12-14 Maret.

Menurut Tommy, saung Berkarya adalah bengkel kerja (Workshop) yang dibangun sebagai wujud kepedulian Partai Berkarya terhadap persoalan pemenuhan pangan dan energi masyarakat. Saung tersebut terbuka untuk memberikan keahlian dan kecakapan dalam pertanian, peternakan dan biogas untuk masyarakat yang berminat dan membutuhkan.

“Saat ini pemerintah sudah cukup kewalahan dengan subsidi liquified petroleum gas (LPG) yang sudah mencapai Rp 24 triliun, subsidi minyak tanah angkanya mencapai Rp 18 triliun dan subsidi pupuk Rp 12 triliun. Jadi, kita sebagai warga masyarakat bisa membantu pemerintah secara sederhana namun efektif.”terang Tommy seperti yang dituliskan penanggung jawab Saung Berkarya, Dr Sri Wahyuni melalui siaran pers yang diterima sorongraya.co Kamis sore, 14 Maret 2019.

Sri Wahyuni menjelaskan, program Kemandirian Pangan dan Energi tersebut beruntukkan pertanian terpadu, secara sederhana dalam skala kecil, dimana masyarakat akan didorong untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan dan energi mereka sendiri.

“Jadi, kita berpikir sebaiknya di setiap desa itu memiliki dan menonjolkan kekhasan mereka sendiri, karena ada desa yang kuat dalam peternakan ayam, budidaya cabai, tomat dan lain lain. Untuk itu semua harus didorong. Desa cabai misalnya, harus mampu memproduksi sampai semacam bon cabe, desa yang kuat tomat harus bisa memproduksi saus tomat sendiri,”kata Sri.

Program Kemandirian pangan dan energi untuk masyarakat. /Foto: Istimewa

Selain itu, pihak pihak terkait harus berkombinasi dengan peternakan. Misalnya, kotoran ternaknya itulah yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk membuat biogas sebagai solusi upaya memenuhi energi.

“Di desa-desa transmigrasi yang terpencil, minyak tanah dan LPG susah, pelatihan membuat dan memanfaatkan biogas akan sangat membantu,”terangnya.

Lanjut dikatakan perempuan yang juga merupakan anggota Dewan Pakar Partai Berkarya itu bahwa pihaknya sudah memiliki proyek percontohan di Sentani, Papua. “Kami akan segera lanjut mencobanya di Nabire, Merauke, Kerom, lalu Jayapura, dan beberapa tempat lain di Papua,”tuturnya.

Menurutnya, selain di beberapa wilayah di pulau Jawa, kawasan Indonesia Timur, NTT dan Kalimantan Barat, adalah wilayah yang tepat untuk menjadi tempat percontohan Partai Berkarya dalam pengembangan biogas. Perkembangan positif lainnya, pihaknya tengah pula mencoba pembuatan biogas dari rumah tangga dari limbah keluarga. Hal itu sedang diterapkan di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Banten.

“Dalam waktu dekat, kami juga akan membangun sarana pembuatan biogas dari limbah keluarga ini di Pesantren Nurul Iman, Parung, Kabupaten Bogor,”kata Sri.

Dikatakan, PATRI adalah sarana berhimpunnya aspirasi dan peran serta putra-putri para transmigran. Organisasi ini mulai terbentuk pada 2004 sebagai wadah pemikiran, pandangan, pembinaan, dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), sebagai mitra Pemerintah dalam pembangunan bidang ketransmigrasian.

“Kami anak anak transmigran benar-benar merasakan manfaat transmigrasi, meski pada awalnya tentu harus melalui proses berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian,” kata mantan Ketua Umum PATRI, Sugiarto Sumas.

“Kini rata-rata keluarga anak transmigran hidup berkecukupan. Ada yang berkarir di militer mencapai bintang dua, ada yang jadi guru besar dan bekerja di banyak sektor dan lain sebagainya,”tutupnya.[krs]


Bagikan ini:
  • 34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    34
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.