MetroPendidikan & KesehatanTanah Papua

Rektor IAIN Sorong: Pramuka Harus Dikenal Bukan Hanya karena Seragam, tetapi karena Karakternya

×

Rektor IAIN Sorong: Pramuka Harus Dikenal Bukan Hanya karena Seragam, tetapi karena Karakternya

Sebarkan artikel ini

SORONG, sorongraya.co– Menjadi seorang Pramuka bukan sekadar mengenakan seragam cokelat, memasang atribut, atau mahir memberikan aba-aba. Lebih dari itu, seorang Pramuka harus mampu menunjukkan karakter, integritas, serta keteladanan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr. Suparto Iribaram, saat memberikan sambutan pada penutupan kegiatan Perkemahan Lomba Tingkat se-Papua Barat Daya (PBD). Minggu (1/11/2026).

Di hadapan para peserta, pembina, dan panitia, Suparto menegaskan bahwa hakikat seorang Pramuka adalah pribadi yang memiliki prinsip kuat, tangguh menghadapi tantangan, serta tulus dalam menjalankan pengabdian.

“Jadilah Pramuka yang tidak hanya dikenal karena seragamnya, tetapi dihormati karena karakternya. Jangan hanya pandai memberikan aba-aba, tetapi mampu memberikan teladan. Jangan hanya berbicara tentang pengabdian, tetapi buktikan melalui tindakan kita,” pesannya.

Menurutnya, ada tiga nilai penting yang harus senantiasa tertanam dalam diri setiap anggota Pramuka, khususnya golongan penegak, yakni teguh dalam prinsip, tangguh dalam menghadapi tantangan, dan tulus dalam pengabdian.

Ketiga nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki keterampilan kepramukaan, tetapi juga berkarakter, berintegritas, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia berharap, para Pramuka penegak dapat tumbuh menjadi calon pemimpin masa depan yang membawa perubahan positif, baik bagi masyarakat Indonesia secara umum maupun masyarakat Papua secara khusus.

Suparto juga menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme peserta serta kerja keras mahasiswa yang terlibat sebagai panitia dalam menyukseskan kegiatan perkemahan lomba tersebut.

Menurutnya, semangat peserta terlihat sejak proses pendaftaran. Berdasarkan laporan awal, sekitar 30 sekolah telah menyatakan ketertarikan untuk mengikuti kegiatan. Namun, seiring berjalannya waktu, sejumlah sekolah harus mengurungkan keikutsertaan karena keterbatasan kesiapan finansial dan anggaran.

Meski demikian, sebanyak 10 sekolah tetap berpartisipasi dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Baginya, keikutsertaan sekolah-sekolah tersebut merupakan bukti bahwa semangat untuk belajar, berkompetisi, dan mengembangkan diri di kalangan generasi muda tetap terjaga.

“Saya pikir antusias peserta cukup tinggi. Dari laporan awal, ada sekitar 30 sekolah yang mendaftar. Namun, karena keterbatasan anggaran dan kesiapan finansial, tidak semua sekolah dapat terlibat langsung. Meski demikian, ada 10 sekolah yang tetap berpartisipasi. Ini menjadi motivasi bagi sekolah-sekolah lain untuk ikut berlomba pada kegiatan berikutnya,” ungkapnya.

Tidak hanya memberikan apresiasi kepada peserta, Rektor juga memberikan penghargaan khusus kepada mahasiswa dan seluruh panitia yang telah bekerja keras sejak tahap persiapan hingga penutupan kegiatan.

Ia mengakui bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut berlangsung dengan dukungan finansial yang terbatas. Bahkan, panitia harus berinisiatif dan secara sukarela mengupayakan kebutuhan pendanaan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana.

“Saya mengapresiasi teman-teman panitia yang telah mempersiapkan kegiatan ini dari awal sampai akhir. Walaupun dengan keterbatasan finansial, semangat mereka tidak pernah pudar. Kami juga terus terang memiliki keterbatasan dalam memberikan dukungan kepada panitia. Karena itu, saya sangat menghargai kerja keras dan pengabdian mereka,” tuturnya.

Menang Bukan Alasan untuk Berhenti, Kalah Bukan Alasan untuk Menyerah

Dalam kesempatan tersebut, Suparto juga menyampaikan pesan kepada seluruh peserta, baik yang berhasil meraih prestasi maupun yang belum memperoleh juara.

Bagi peserta yang berhasil menjadi juara umum, ia mengingatkan agar tidak cepat berpuas diri. Prestasi yang telah diraih harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempertahankan kualitas diri.

Sementara itu, bagi peserta yang belum berhasil membawa pulang penghargaan, ia berpesan agar tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai akhir dari perjuangan.

Sebaliknya, pengalaman tersebut harus menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi untuk belajar lebih giat, memperbanyak latihan, dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.

“Jangan berpikir bahwa kegagalan kita hari ini adalah akhir dari sebuah perjuangan. Kegagalan hari ini harus dijadikan pelajaran agar kita dapat berkembang menjadi lebih baik,” tegasnya.

Menurut Suparto, setiap pengalaman selama lima hari pelaksanaan perkemahan merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Kemenangan mengajarkan tentang tanggung jawab untuk mempertahankan prestasi, sedangkan kekalahan memberikan kesempatan untuk belajar, memperbaiki kekurangan, dan membangun semangat baru.

Karena itu, ia berharap seluruh peserta dapat membawa pulang bukan hanya pengalaman mengikuti perlombaan, tetapi juga nilai-nilai positif yang diperoleh selama berada di lingkungan kampus.

Pulang Membawa Karakter dan Keteladanan

Lebih jauh, Suparto mengingatkan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan perkemahan lomba harus memberikan dampak positif bagi sekolah dan organisasi yang diwakili masing-masing peserta.

Para peserta diharapkan mampu menjadi panutan, pelopor, serta duta yang membawa nama baik sekolah dan organisasinya ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

Ia mengajak seluruh peserta untuk mengambil hal-hal baik selama kegiatan berlangsung sebagai motivasi, sekaligus meninggalkan hal-hal yang kurang baik sebagai bahan pembelajaran.

“Ketika menemukan sesuatu yang baik, jadikanlah itu sebagai motivasi bagi diri Anda dan kita semua. Tetapi ketika menemukan sesuatu yang kurang baik, tinggalkanlah hal-hal tersebut,” pesannya.

Penutupan Perkemahan Lomba Tingkat se-Papua Barat Daya ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan selama lima hari, mulai dari persiapan, pelaksanaan berbagai perlombaan, hingga penutupan.

Bagi Suparto, keberhasilan kegiatan ini bukan semata-mata diukur dari siapa yang menjadi juara, melainkan juga dari semangat kebersamaan, perjuangan, kedisiplinan, dan pengalaman yang diperoleh seluruh peserta.

Pada akhirnya, seragam Pramuka mungkin akan dilepas setelah kegiatan berakhir. Tenda-tenda akan dibongkar dan seluruh peserta akan kembali ke sekolah masing-masing. Namun, nilai kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, dan pengabdian harus tetap melekat dalam kehidupan mereka.

Sebab, seorang Pramuka sejati tidak hanya menunjukkan jati dirinya ketika mengenakan seragam, tetapi juga melalui karakter dan perbuatannya di tengah masyarakat.

Pramuka bukan sekadar tentang siapa yang paling unggul dalam perlombaan, melainkan siapa yang mampu menjadi teladan setelah perlombaan usai.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.