Alfaris Labagu, Sekretaris DMI Papua Barat.
Metro

Pilih Periksa atau Keluar, DMI PB: Itu Sikap Arogan Yang Tak Pantas

Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WAISAI, sorongraya.co – Pasca keluarnya salah satu Imam masjid di Waisai, Kabupaten Raja Ampat inisial AL belum lama ini, ditanggapi Dewan Masjid Indonesia (DMI) Papua Barat. DMI menyesalkan langkah tim penanganan covid-19 Kabupaten Raja Ampat yang memberi pilihan periksa darah atau keluar dari Raja Ampat.

Sekretaris DMI Papua Barat, Alfaris Labagu mengatakan, pilihan narasi tim gugus tugas Covid-19 seperti pernyataan Sekda Raja Ampat, Yusuf Salim di sejumlah media online yang meminta AL jika tidak melakukan pemeriksaaan darah silahkan keluar dari Raja Ampat, menunjukkan sikap arogan yang tak pantas dilakukan oleh seorang pejabat negara.

Menurut Faris, Sekda Kabupaten Raja Ampat harus tau cara menghadapi orang yang keras kepala alias tidak patuh dan tidak taat mengikuti imbauan pemerintah. Apalagi seorang Pamong dan juga pernah menjabat sebagai Camat. “Harusnya beliau (sekda) sudah ‘makan garam’ dalam menghadapi masyarakat sehingga sangat paham dan mengerti, bukan disuruh memilih atau meminta keluar dari Raja Ampat,” terang Faris.

Tak hanya itu, DMI Papua Barat juga menilai bahwa tidak ada SOP Gugus Tugas Covid-19 seperti yang dinarasikan oleh Sekda Raja Ampat. “Seharusnya Sekda lebih tenang, lebih sabar dan tidak perlu terlalu panik menghadapi hal seperti ini, tapi gunakanlah  cara-cara komunikasi yang baik, manusiawi dan menghormati hak asasi orang lain. Ada pihak Polres,  Kodim, Ketua MUI, Kepala Suku yang bisa diminta bantuannya untuk memberikan edukasi dan pengertian yang baik,” ujarnya.

Dirinya berharap agar Gugus Tugas Covid-19 Raja Ampat terlebih khusus Sekda Raja Ampat kedepan dapat menjalankan tugas secara profesional, jauhkan sikap arogan, lebih sabar. Bahkan Alfaris meminta agar gugus tugas Covid-19 ini segera mengevakuasi AL agar kembali ke Waisai Raja Ampat untuk dikarantina sesuai aturan.

“Bagaimanapun beliau (AL) adalah seorang Imam Masjid yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” imbuhnya.

Baca: Tak Mau Periksa Darah, Imam Masjid Arsyillah Pilih Keluar Dari Raja Ampat

Sementara Sekda Raja Ampat, Yusuf Salim mengaku jika hal tersebut merupakan bentuk pembelajaran berharga dan bermakna bagi AL. Kata Yusuf Salim, AL sendiri sudah koperatif dan mengakui kesalahannya bahkan AL juga meminta maaf kepada pemerintah dan tim satgas C-19 Kabupaten Raja Ampat.

“AL sudah kembali ke Waisai dan itu bukan usaha siapa-siapa, tetapi Pemerintah dan tim Covid yang menyiapkan Speedboat khusus untuk menjemput AL dari kapal,” ujarnya.

Yusuf Salim menegaskan bahwa tim satgas Covid-19 Raja Ampat dalam menjalankan tugas tidak memandang siapapun, baik itu suku maupun agama. Namun yang dilihat adalah apabila ada oknum yang melakukan perlawanan atau tidak mengikuti protokol kesehatan, maka harus diberikan sanksi.

“Sanksinya adalah, yang bersangkutan memilih untuk dipulangkan dan melakukan pendekatan dengan keluarganya. Tetapi setibanya di Sorong AL ditolak,” terang Yusuf.

Lanjut Sekda, sebelumnya Tim Satgas sudah melakukan pertemuan sebanyak tujuh kali bersama AL, akan tetapi AL dinilai tidak kooperatif.

“Pertanyaanya apakah dengan satu orang, Pemerintah dan tim Covid harus kehabisan energi untuk memberikan kesadaran terus-menerus. Tim Covid sudah menjalankan tugas sesuai surat edaran baik dari MUI Pusat, Provinsi, Kabupaten maupun Dewan Masjid Indonesia Provinsi Papua Barat. Tujuannya kita hanya satu yaitu menjaga Raja Ampat ini” pungkasnya. [dav]

Editor: junaedi


Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.