SORONG,sorongraya.co-Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Papua Barat–Papua Barat Daya periode 2026–2028 resmi dilantik.
Pelantikan tersebut menjadi momentum penguatan pelayanan kesehatan perempuan dan anak melalui pelaksanaan program strategis bertajuk SPRINT (Selamatkan Perempuan Indonesia).

Ketua Umum POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp.FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, mengatakan program SPRINT dirancang untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, menekan prevalensi stunting, serta memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kanker serviks.
Menurut Budi, keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga media.
“Persoalan kesehatan reproduksi harus menjadi tanggung jawab bersama, sebagaimana saat bangsa Indonesia bergotong royong menghadapi pandemi COVID-19,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program SPRINT dijalankan melalui lima pilar utama, yakni pencegahan dan pengobatan kanker serviks, pengawalan kehamilan serta pemenuhan nutrisi perempuan, edukasi kesehatan reproduksi lintas generasi, penguatan kader dan pelayanan kesehatan reproduksi, serta perencanaan finansial bagi ibu hamil dan ibu bersalin.

Dalam kesempatan itu, Budi juga menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Papua Barat Daya. Saat ini hanya terdapat 27 dokter spesialis yang melayani lima kabupaten dan satu kota.
Menurutnya, jumlah tersebut belum ideal sehingga pemerataan distribusi tenaga medis menjadi kebutuhan mendesak guna meningkatkan akses layanan kesehatan hingga ke wilayah terpencil.
Sementara itu, Ketua POGI Papua Barat–Papua Barat Daya, dr. Jan Pieter E.A. Kambu, SpOG, Subsp.FER, mengatakan kepengurusan periode 2026–2028 merupakan periode ketiga sejak organisasi tersebut dibentuk pada 2018.
“POGI berkomitmen mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak, termasuk program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelayanan kesehatan dasar, POGI menyerahkan secara simbolis 100 paket alat persalinan atau bidan kit untuk puskesmas di Papua Barat Daya. Organisasi tersebut juga akan terus memberikan pelatihan kepada bidan dan dokter umum, termasuk peningkatan kemampuan pemeriksaan USG dasar serta penguatan sistem rujukan.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, mengapresiasi pelantikan pengurus baru POGI dan berharap organisasi profesi tersebut dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Menurut Elisa, dokter spesialis obstetri dan ginekologi memiliki peran penting dalam mengawal kesehatan perempuan mulai dari masa remaja, kehamilan, persalinan, hingga menopause.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, lanjutnya, akan terus memperkuat layanan kesehatan dasar dan rujukan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan, serta memperluas jangkauan pelayanan kesehatan ibu dan anak di seluruh wilayah Papua Barat Daya.(***)













