MetroTanah Papua

Menantang Jarak demi Ilmu: Kisah Saul dan Sem Berjalan Kaki 5 Kilometer ke Sekolah

×

Menantang Jarak demi Ilmu: Kisah Saul dan Sem Berjalan Kaki 5 Kilometer ke Sekolah

Sebarkan artikel ini
Sem dan Saul yang berjalan kaki ke sekolah setiap hari menempuh perjalanan 5 kilo meter dari Kampung Awet Maim, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. [foto: dok]

MAYBRAT, sorongraya.co – Pagi itu di Kampung Awet Maim, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Hari belum sepenuhnya terang. Embun pagi masih membasahi rerumputan di sepanjang jalan, sementara kabut tipis menggantung rendah di atas pucuk-pucuk pepohonan.

Dari kejauhan, terdengar suara nyaring memecah kesunyian. Sem, seorang pelajar SMP Negeri 2 Aifat, memanggil sahabat sebayanya yang tengah bersiap-siap.

Polling Tokoh Papua Barat Daya

Siapakah Tokoh Papua Barat Daya Yang Paling Disukai.?

“Sauuul… Jalan ayo!” teriak Sem.
“Mari,” jawab Saul singkat, menyambut ajakan itu dari balik pintu rumah.

Tepat pukul 05.30 WIT, kedua putra asli Maybrat ini memulai langkah mereka. Setiap hari, mereka harus menempuh perjalanan sepanjang 5 kilometer tanpa alas kaki, berjalan dari kampung halaman mereka di Awet Maim menuju Kampung Susumuk, tempat sekolah mereka berada.

Jangan bayangkan ada kendaraan yang lalu lalang atau deru mesin yang bising. Saul dan Sem melangkah di atas jalanan berbatu yang kering dan penuh tanjakan. Teman setia mereka hanyalah kicauan burung yang menyambut pagi, serta sesekali hewan liar yang melintas masuk ke dalam rimbunnya hutan lebat di kanan-kiri jalan. Namun, sunyinya pedalaman tidak sedikit pun menyurutkan nyali keduanya untuk menuntut ilmu.

Di tengah perjalanan, langkah kaki kedua anak SMP ini melambat. Rasa lelah mulai menjalar. Sem yang baru berusia 11 tahun menghentikan langkahnya, menatap langit yang mulai bersemburat jingga.

“Saul, menurut ko, langit setinggi itu, kita punya cita-cita bisa sampai ke sana atau tidak?” tanya Sem polos, raut wajahnya menyiratkan harap sekaligus cemas.

Mendengar pertanyaan sahabatnya, Saul terdiam sejenak. Ia memandang jalan panjang di depan mereka lalu menjawab, “Kita jalan saja dulu. Lima kilo hari ini, lima kilo besok. Nanti langit juga dekat dengan sendirinya.”

Kalimat singkat itu menyelinap masuk ke dada Sem, memecah keraguan yang sempat hinggap. Sebuah jawaban sederhana yang bermakna teramat dalam.

Antara Harapan dan Keraguan

Di usia yang masih belasan tahun, Sem dan Saul sudah terlalu sering memikul beban pikiran orang dewasa. Mereka kerap merenung dan mempertanyakan masa depan. Di tengah keterbatasan, lintasan pikiran negatif terkadang hadir—apakah impian mereka benar-benar bisa terwujud, ataukah semua ini hanya akan berujung sia-sia?

Bahkan, salah satu dari mereka sempat berpikir untuk berhenti sekolah. Kenyataan hidup terlalu berjarak; berjalan kaki berkilo-kilometer sejak kelas 1 SMP menguras fisik dan batin. Namun, impian mereka begitu kokoh. Mereka ingin menjadi guru. Sebuah cita-cita mulia agar kelak bisa kembali ke Kampung Awet Maim dan mengajar anak-anak di sana. Bagi mereka, berjalan kaki 5 kilometer itu gratis, meski masa depan tetap menjadi rahasia Tuhan.

Sore harinya, perjalanan itu kembali diulang. Mereka melangkah pulang menuju rumah masing-masing. Jarak 5 kilometer di bawah sengatan matahari atau guyuran hujan deras sudah menjadi bagian dari denyut nadi mereka.

Kerap kali mereka mendengar sinisme dari sekitar, “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya tetap tinggal di kampung?” Namun, Saul dan Sem memilih tuli terhadap cemoohan itu. Mereka percaya, langkah 5 kilometer hari ini adalah langkah pertama menuju 5.000 kilometer ruang cita-cita mereka.

Langit memang jauh, dan masa depan belum pasti. Namun selama kaki masih mampu melangkah dan sahabat karib berada di samping, jalan dari Awet Maim ke Susumuk tidak akan pernah terasa sepi.

Menagih Kehadiran Pemerintah

Membaca kisah Sem dan Saul yang setiap hari bertaruh peluh menaklukkan keheningan hutan sepanjang 5 kilometer demi bersekolah tentu mengiris hati kita.

Tulisan ini bukan sekadar catatan tentang ketangguhan dua anak pedalaman Aifat. Kisah nyata Saul dan Sem adalah sebuah tamparan keras. Di era digital dan kemajuan teknologi yang kian masif, pemandangan anak-anak bertelanjang kaki menembus hutan demi sekolah seharusnya sudah menjadi cerita masa lalu.

Kucuran dana otonomi khusus (Otsus) dan anggaran pendidikan yang fantastis dari pemerintah pusat ke daerah seolah menguap begitu saja ketika kita melihat realitas di lapangan. Mengapa masih ada anak-anak yang nyaris putus sekolah hanya karena ketiadaan akses transportasi dan infrastruktur layak?

Di tengah megahnya retorika pembangunan daerah, sepintas muncul pertanyaan yang menuntut jawaban nyata, Di manakah kehadiran dan peran Pemerintah Kabupaten Maybrat untuk menjamin hak pendidikan anak-anak seperti Saul dan Sem?

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.