SORONG, sorongraya.co-Tanah yang sebelumnya ditumbuhi rumput liar kini mulai berubah menjadi lahan pertanian produktif. Di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, warga bergotong royong mengolah pekarangan yang tak terpakai menjadi wajah baru untuk menanam dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Di lahan itu, sejumlah tanaman mulai tumbuh. Jagung, cabai atau cabe, tomat, kacang panjang, pepaya, hingga sayur bayam mulai menghijau di antara bedeng-bedeng yang disusun dengan kerja keras warga.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kelompok Tani Nematovombeel melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) VII Kasim. Program yang dikembangkan pada 2026 ini diarahkan untuk membangun sentra budidaya pertanian produktif dan terpadu di Kampung Seget.
Nama Nematovombeel berasal dari bahasa Moy yang berarti “mari mencoba bersama-sama”. Nama itu seolah menggambarkan semangat warga yang mulai menapaki pengalaman baru dalam mengelola pertanian secara berkelompok.

Ketua Kelompok tani Nematovombeel, Mama Yeni Ubay, 58 tahun, tersebut memiliki 20 anggota. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok kerja yang masing-masing beranggotakan 10 orang. Pembagian tugas dilakukan untuk mendukung pengelolaan tiga zona lahan yang telah disepakati bersama.
Lahan tersebut merupakan pekarangan warga yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatannya dilakukan melalui kesepakatan kelompok serta koordinasi dengan pemerintah kampung dan pemerintah distrik.
Bagi warga, mengubah lahan yang dipenuhi rumput liar menjadi kebun produktif bukan pekerjaan mudah. Namun, mereka memiliki tujuan yang sama untuk menghasilkan pangan dari tanah sendiri sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi keluarga.
Perjalanan kelompok tani ini dimulai dari proses penjajakan dan survei lahan pada akhir Mei 2026. Pada Juni, warga mulai membersihkan lahan dan mengikuti pelatihan budidaya pertanian. Memasuki Juli, mereka membuat bedeng dan mulai menanam berbagai komoditas.
Pada Juli hingga Agustus, tanaman yang ditanam mulai menunjukkan pertumbuhan. Meski masih dalam tahap awal, aktivitas tersebut menjadi tanda bahwa upaya warga mulai membuahkan hasil.

Sekretaris Kampung Seget, Bastian Abner Rumbiak, 45 tahun, mengatakan masyarakat menyambut baik kehadiran program TJSL Pertamina Patra Niaga RU VII Kasim karena memberikan dukungan bagi warga yang ingin mengembangkan pertanian.
“Kami masyarakat Kampung Seget sangat bersyukur atas program TJSL dari Pertamina Patra Niaga Kilang Kasim RU VII karena sangat membantu,”ujarnya kepada sorongraya.co. Seni (31/8/2026).
Menurut Bastian, sebelumnya masyarakat belum mendapatkan pendampingan pertanian dengan pola seperti ini. Bantuan yang tersedia melalui dana kampung pun terbatas dan bergantung pada kemampuan anggaran.

“Awalnya belum ada bantuan seperti ini. Kalau dana kampung memungkinkan, kami berusaha membantu masyarakat dengan bibit. Sekarang aktivitas kelompok tani ini baru berjalan sekitar empat bulan. Kami juga masih belajar,” katanya.
Ia menuturkan, warga mulai menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari jagung, rica, tomat, kacang panjang, pepaya, hingga bayam. Di salah satu lahan, warga bahkan telah memulai penanaman jagung pada empat bedeng. Seluruh kegiatan tersebut dikerjakan bersama oleh anggota kelompok. Ada tiga zona lahan yang dikembangkan, termasuk lahan di sekitar bangunan gereja lama di bagian darat Kampung Seget.
Bagi Bastian, proses tersebut bukan sekadar membersihkan lahan dan menanam bibit. Lebih dari itu, warga sedang membangun kebiasaan bekerja bersama dan belajar mengelola pertanian dengan lebih terarah.

Tantangan terbesar pada tahap awal adalah membersihkan lahan. Rumput liar yang tumbuh tebal dan berlapis membuat pekerjaan harus dilakukan berulang kali.
Warga membabat rumput dari bagian atas, kemudian menarik dan membersihkan kembali sisa-sisanya sebelum dikumpulkan. Pekerjaan itu membutuhkan tenaga, waktu, dan keterlibatan seluruh anggota kelompok.
“kami punya satu tujuan, yaitu supaya nanti bisa menikmati hasilnya,”tutur Bastian.
Dua kelompok kerja berbagi tanggung jawab dalam membersihkan dan menyiapkan lahan. Meski pekerjaan terasa berat, semangat mereka tetap terjaga karena hasil pertanian diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bastian mengatakan, masyarakat Kampung Seget selama ini memiliki mata pencaharian yang beragam. Sebagian bekerja sebagai nelayan, sebagian lainnya berkebun atau mencari sagu di hutan.
Melalui pertanian, ia berharap masyarakat memiliki pilihan kegiatan ekonomi yang lebih luas. Hasil panen nantinya tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga berpeluang dipasarkan jika jumlah produksinya mencukupi.
“Kami berusaha mencari pasar supaya hasil pertanian ini tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga bisa dijual keluar. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” katanya.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada tahap pemberian bantuan. Pendampingan yang berkelanjutan dinilai penting agar kemampuan warga dalam bercocok tanam semakin berkembang.
“Harapan kami, kalau bisa program ini jangan dihentikan. Kami ingin terus dibina, lebih dekat dengan masyarakat, dan diberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang cara bercocok tanam. Kalau bisa, ke depan ada kegiatan lain juga yang dapat membantu menambah penghasilan masyarakat,” ujarnya.

Bagi Mama Yeni Ubay, menjadi ketua kelompok tani merupakan pengalaman baru. Sebelum bergabung dalam kegiatan pertanian ini, ia menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga dan pernah bekerja membersihkan rumah sakit di Seget.
Kini, ia bersama anggota kelompok lainnya belajar mengelola lahan, mengenal budidaya tanaman, dan merawat bibit yang telah ditanam.
Mama Yeni mengaku bantuan bibit dan pelatihan yang diberikan melalui program TJSL sangat membantu dirinya dan anggota kelompok. Meski masih dalam tahap penyesuaian, ia menyadari bahwa keberhasilan pertanian membutuhkan ketekunan dan perawatan secara rutin.
Pengalaman ini menjadi langkah awal bagi Mama Yeni dan anggota kelompok untuk mengembangkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Bagi mereka, Tanaman yang tumbuh bukan hanya berpotensi menghasilkan bahan pangan, melainkan juga menjadi kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Junior Officer Communication Relation CSR PT Pertamina Patra Niaga RU VII Kasim, Bambang Imawan, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan program TJSL sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Kampung Seget dipilih karena berada di wilayah ring satu perusahaan dan memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan.
Menurut Bambang, perusahaan mulai melakukan diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat di sejumlah kampung sejak Januari 2026. Dalam proses tersebut, perusahaan menggali potensi lokal dan kebutuhan masyarakat yang memungkinkan untuk dikembangkan melalui program pemberdayaan.
“Kami sejak awal tahun berkeliling ke kampung-kampung untuk melakukan FGD. Kami bertanya, apa yang bisa dikembangkan di masing-masing kampung. Ternyata, di Seget sudah ada aktivitas pertanian yang berjalan sehingga secara potensi bisa kami bantu,” jelas Bambang.

Ia mengatakan, sebelum program dikembangkan, sebagian warga telah bertani secara mandiri di lahan masing-masing. Namun, aktivitas tersebut belum sepenuhnya terorganisasi dalam kelompok dengan pengelolaan yang terarah.
Karena itu, perusahaan mendorong pembentukan kelompok tani dan pemanfaatan lahan secara bersama-sama. Koordinasi dengan pemerintah kampung juga dilakukan untuk memastikan lahan yang digunakan dapat dimanfaatkan sesuai kesepakatan.
Menurut Bambang, pengembangan program tidak hanya berfokus pada penyediaan bibit, tetapi juga peningkatan kemampuan masyarakat dalam menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif dan efisien.
“Kami ingin meningkatkan kemampuan masyarakat agar cara bertaninya lebih efektif, lebih efisien, dan hasilnya lebih baik. Ke depan, kami juga akan mencoba mendorong pemanfaatan kompos dan berbagai teknik budidaya lainnya,” ujarnya.
Setelah melalui proses persiapan, pembersihan lahan, dan pembuatan bedeng, kegiatan pertanian mulai berjalan pada Mei hingga Juni 2026. Perkembangannya kemudian berlanjut dengan penanaman sejumlah komoditas pada bulan-bulan berikutnya.
Bambang menilai, perubahan tersebut merupakan langkah awal yang perlu diperkuat melalui pendampingan, koordinasi, serta pengelolaan kelompok yang berkelanjutan.
Salah satu tantangan dalam mengembangkan pertanian masyarakat adalah memastikan hasil panen memiliki pasar yang jelas. Karena itu, Pertamina Patra Niaga tidak hanya mendorong produksi, tetapi juga mulai memikirkan skema penyerapan hasil pertanian.
Pada tahap awal, hasil panen akan dilihat terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah produksi dan kemampuan pasar lokal dalam menyerapnya. Jika produksi meningkat dan melebihi kebutuhan masyarakat kampung, pemasaran ke Kota Sorong akan menjadi salah satu pilihan pengembangan.
Bambang menjelaskan, perusahaan juga mempertimbangkan pembentukan koperasi sebagai sarana untuk mengumpulkan dan menyalurkan hasil produksi masyarakat.

“Kalau hasilnya nanti cukup untuk dijual ke Kota Sorong, kami akan mencari solusi bagaimana pemasarannya. Sekarang kami ingin melihat dulu apakah hasil panen bisa terserap di kampung sendiri,” katanya.
Dalam rencana jangka panjang, koperasi diharapkan dapat menjadi penghubung antara kelompok tani dan pasar yang lebih luas. Dengan pengelolaan bersama, produksi dari sejumlah kampung dapat dihimpun sehingga volume hasil panen lebih besar dan pemasaran menjadi lebih efisien.
Wilayah pengembangan yang disebutkan perusahaan mencakup sejumlah kampung di Distrik Seget, termasuk Seget, Wayenkede, Malabam, dan Pulau Kasim. Melalui koordinasi antarkelompok, penanaman komoditas tertentu juga dapat diatur dalam periode yang sama agar hasil produksi lebih mudah dikumpulkan dan dipasarkan.
Sembari menunggu terbentuknya sistem pemasaran yang lebih besar, perusahaan membuka peluang untuk menyerap hasil pertanian dalam jumlah terbatas apabila produksi masyarakat belum terserap seluruhnya di kampung.
Menurut Bambang, langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat selama kelompok tani masih berkembang.
Pengembangan pertanian di Kampung Seget merupakan bagian dari rencana pemberdayaan masyarakat yang lebih luas. Pertanian menjadi salah satu fokus, bersama dengan pengembangan peternakan dan perikanan di sejumlah kampung sekitar wilayah operasional perusahaan.

Ke depan, perusahaan berencana menjajaki kegiatan seperti peternakan ayam, budidaya ikan, dan peternakan babi sesuai potensi masing-masing kampung. Pengembangan berbagai sektor tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Bambang berharap, upaya tersebut dapat menjadi bagian dari langkah menuju kemandirian pangan di Distrik Seget. Jika produksi lokal berkembang, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan sendiri, tetapi juga memiliki peluang memasok pasar yang lebih luas.
Ia juga melihat potensi penyerapan produk pangan lokal apabila nantinya tersedia kebutuhan dari fasilitas atau program penyediaan makanan di wilayah tersebut. Namun, pengembangannya tetap membutuhkan kesiapan produksi, koordinasi, dan sistem distribusi yang memadai.
Di sisi lain, pengembangan kelompok tani masih menghadapi sejumlah tantangan administratif. Koordinasi dengan pemerintah setempat diperlukan untuk memastikan kejelasan penggunaan lahan serta membantu kelompok memperoleh legalitas dan terdaftar pada instansi terkait.
Dengan status kelompok yang lebih jelas, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan mengakses dukungan tambahan, termasuk program bantuan dari pemerintah.
Sementara itu, untuk menghadapi musim kering, warga juga berupaya memastikan ketersediaan air melalui sumber air dan sumur yang disiapkan secara bertahap. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan tanaman ketika curah hujan berkurang.
Di Kampung Seget, perjalanan menuju pertanian produktif masih panjang. Tanaman yang mulai tumbuh menjadi awal dari proses belajar yang membutuhkan ketekunan, pendampingan, dan kerja sama.
Bagi warga, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari banyaknya bibit yang ditanam atau luasnya lahan yang dibersihkan. Harapan yang lebih besar adalah tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi lokal, memenuhi kebutuhan pangan, dan menciptakan sumber penghasilan tambahan.
Semangat yang tercermin dalam nama Nematovombeel mari mencoba bersama-sama menjadi pengingat bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana.















