SORONG, sorongraya.co-Suara mesin berpadu dengan hentakan besi terdengar dari lokasi pengeboran di Pulau Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Di tengah hamparan tanah yang menjadi bagian dari wilayah operasi minyak dan gas bumi (migas), mata bor terus berputar, menembus lapisan bumi hingga kedalaman sekitar 2.000 meter.
Di balik deru mesin dan aktivitas para pekerja, tersimpan harapan besar untuk menemukan cadangan migas baru untuk menjaga keberlanjutan produksi energi dari Tanah Papua.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terlihat seperti proyek konstruksi pada umumnya. Namun, bagi industri migas, setiap meter pengeboran memiliki arti penting. Ada peluang untuk menemukan cadangan baru, meningkatkan produksi, dan memperkuat pasokan energi, khususnya bagi masyarakat Papua.
Harapan itulah yang kini diupayakan PT Pertamina EP (PEP) Papua Field melalui kegiatan pengeboran di Lapangan Salawati.
Perusahaan tersebut telah menyelesaikan pengeboran tiga sumur, yakni SLW-C4X sebagai sumur pertama, SLW-E6 sebagai sumur kedua, dan SLW-F2 sebagai sumur ketiga. Ketiga sumur tersebut berada di Distrik Salawati Tengah dan Distrik Salawati Selatan, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.
Pengeboran dilakukan menggunakan rig milik PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) 11.2 yang bekerja sama dengan PEP Papua Field dalam rangkaian program pengeboran atau drilling campaign di Pulau Salawati.
Setelah menyelesaikan tiga sumur sebelumnya, tim kini melanjutkan pengeboran sumur keempat, yakni SLW-F3. Program ini merupakan bagian dari rencana pengeboran lima sumur yang disiapkan perusahaan.

“Total ada lima sumur dalam program campaign ini. Saat ini kita sudah berjalan di sumur keempat,” ujar Manager PEP Papua Field, Ardi, saat diwawancarai awak media, Rabu (29/7/2026).
Pengeboran sumur SLW-F3 ditargetkan rampung pada awal Agustus 2026. Prosesnya membutuhkan waktu relatif panjang karena karakteristik sumur di Lapangan Salawati yang tergolong dalam.
Menurut Ardi, kecepatan pengeboran sangat bergantung pada kondisi lapisan tanah dan proses teknis di lapangan. Dalam kondisi tertentu, pengeboran dapat berlangsung dengan kecepatan sekitar 10 hingga 15 meter per jam.
Meski demikian, perusahaan optimistis sumur keempat ini dapat kembali memberikan hasil positif.
“Harapan kami, mudah-mudahan sumur keempat ini juga berhasil. Kami menargetkan sekitar 350 barel untuk sumur F3 ini, dengan harapan hasilnya bisa lebih besar,”kata Ardi.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Pada pengeboran sumur sebelumnya, perusahaan pernah memperoleh hasil yang melampaui target. Sumur C4X, misalnya, yang ditargetkan menghasilkan sekitar 500 barel, disebut mampu mencapai produksi sekitar 1.200 barel.
Capaian tersebut menjadi dorongan bagi tim untuk melanjutkan pengeboran dengan harapan menemukan potensi produksi yang lebih besar.
Bagi PEP Papua Field, keberhasilan pengeboran bukan hanya soal mencapai target produksi. Ada harapan lain yang turut diperjuangkan, yakni menjaga agar kegiatan pengeboran terus berlangsung di Papua.
Ardi mengatakan, pelaksanaan program pengeboran sejauh ini masih sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Bahkan, beberapa pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dari target awal.
Sumur SLW-F3 pun masih berada dalam jalur yang ditetapkan perusahaan. Dengan kondisi tersebut, PEP Papua Field memiliki ruang waktu untuk mempersiapkan program pengeboran berikutnya.
Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah pengeboran sumur C5, yang diproyeksikan berlangsung setelah sumur F3 selesai, sekitar September atau Oktober 2026.
Keberhasilan sumur-sumur sebelumnya juga menjadi perhatian manajemen pusat dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Menurut Ardi, capaian tersebut mendorong munculnya tantangan sekaligus harapan agar kegiatan pengeboran dan penggunaan rig dapat terus dipertahankan di Papua.

“Alhamdulillah, berkat keberhasilan sumur-sumur sebelumnya, kami mendapat tantangan lagi, baik dari pusat maupun SKK Migas, agar ada kegiatan lain sehingga rig ini tetap bertahan di sini,”ungkapnya.
Pernyataan Ardi kemudian mengarah pada harapan yang lebih luas. Ia ingin aktivitas pengeboran di Papua terus berlanjut, bukan hanya untuk menyelesaikan program yang sedang berjalan, melainkan juga membuka peluang bagi kegiatan-kegiatan berikutnya.
“Jangan pergi, jangan pergi dari Papua. Kita siapkan lagi program-program yang lain,” kata Ardi dengan penuh harapan.
Kalimat itu menjadi gambaran harapan perusahaan agar potensi migas di Papua terus dikembangkan. Keberlanjutan kegiatan pengeboran diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi migas nasional sekaligus menjaga aktivitas industri hulu migas di wilayah timur Indonesia.
Fokus pengeboran pengembangan PEP Papua Field saat ini berada di Lapangan Salawati. Wilayah tersebut dinilai masih memiliki potensi yang menjanjikan untuk mendukung peningkatan produksi minyak.
Sementara itu, kegiatan eksplorasi juga dilakukan di lapangan lain, termasuk Klamono dan Sele Linda. Ardi menjelaskan, Lapangan Klamono merupakan lapangan yang telah lama berproduksi atau tergolong mature field. Karena itu, kegiatan pengeboran di wilayah tersebut memiliki tantangan tersendiri.
Sejumlah pengeboran eksplorasi di Klamono telah memberikan hasil, meskipun tidak seluruhnya berhasil. Beberapa sumur yang ditemukan justru menunjukkan potensi gas.
Bagi perusahaan, temuan tersebut membuka peluang pengembangan energi yang tidak hanya bertumpu pada minyak bumi, tetapi juga gas alam.
“Harapan kami, di Papua ini kita tidak hanya menambah produksi dari sisi minyak, tetapi juga gas. Potensi gas yang relatif besar ada di Lapangan Klamono,” ujar Ardi.
PEP Papua Field menargetkan sumur gas di Lapangan Klamono dapat mulai beroperasi atau on stream pada 2027. Jika rencana itu terealisasi, produksi gas tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan energi, khususnya di wilayah Papua Barat Daya.

Pengembangan minyak dan gas menjadi dua jalur yang saling melengkapi. Minyak berperan sebagai bahan baku penting untuk menghasilkan bahan bakar minyak, sedangkan gas memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan energi melalui pemanfaatan yang sesuai dengan infrastruktur dan kebutuhan pasar.
Dengan demikian, pengembangan potensi migas di Papua tidak hanya berbicara tentang penambahan jumlah sumur, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya yang ditemukan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat.
Namun, bekerja di wilayah operasi migas Papua bukan perkara mudah. Di balik suara mesin dan aktivitas pengeboran, terdapat tantangan geografis dan operasional yang harus dihadapi setiap hari.
Akses menuju lokasi menjadi salah satu kendala utama. Kondisi jalan yang dapat berubah mengikuti cuaca membuat mobilisasi pekerja, peralatan, dan material membutuhkan perencanaan yang matang.
Saat cuaca cerah, perjalanan menuju lokasi pengeboran relatif lebih lancar. Namun, ketika hujan turun, permukaan tanah dapat berubah menjadi becek dan menyulitkan kendaraan untuk melintas.
Persoalan ini semakin kompleks karena cuaca di wilayah Sorong kerap berubah dalam waktu singkat. Kondisi yang semula panas dapat berganti menjadi hujan, sehingga aktivitas di lapangan harus menyesuaikan keadaan.
“Memang tantangan terbesar kita di wilayah Papua ini terkait akses yang sangat terbatas. Kalau hujan, tanah yang kita pijak ini bisa menjadi becek. Jadi, aktivitas di jalan maupun operasional di lapangan sangat dipengaruhi cuaca,”kata Ardi.
Dalam situasi tertentu, pekerjaan yang berpotensi membahayakan keselamatan harus dihentikan sementara. Keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan pekerja sekaligus memastikan operasional berjalan sesuai prosedur.
Selain cuaca dan akses, lokasi pengeboran yang relatif terpencil juga menghadirkan persoalan komunikasi. Sejumlah titik belum terjangkau sinyal telekomunikasi yang memadai, sehingga koordinasi tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah.
Tantangan lainnya adalah ketersediaan material dan peralatan. Apabila ada kebutuhan yang belum terpenuhi, kegiatan operasional berpotensi mengalami keterlambatan karena pengiriman harus menempuh rantai distribusi yang panjang.
Kondisi tersebut membuat perencanaan menjadi faktor yang sangat menentukan. Kebutuhan material, jadwal mobilisasi, hingga kesiapan peralatan harus diperhitungkan secara cermat sebelum pengeboran dimulai.
“Perencanaan program pengeboran di Papua harus benar-benar lengkap dan pasti. Jangan sampai ada yang tertinggal. Kalau satu saja tertinggal, dampaknya bisa ke seluruh kegiatan dan aktivitas lainnya,”tambahnya Ardi.
Tantangan itu menunjukkan bahwa keberhasilan pengeboran bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis di lokasi sumur. Kesiapan logistik, koordinasi, kondisi cuaca, dan ketepatan perencanaan juga berperan besar dalam menjaga kelancaran operasi.
Di antara berbagai tantangan tersebut, Lapangan Salawati memegang peran penting dalam mendukung produksi minyak PEP Papua Field.
Menurut Ardi, sekitar 75 persen produksi minyak perusahaan berasal dari lapangan tersebut. Dari total produksi sekitar 2.000 barel, kurang lebih 1.500 barel di antaranya berasal dari Salawati.
Angka itu memperlihatkan besarnya kontribusi Salawati terhadap kegiatan produksi perusahaan. Karena itu, peningkatan produksi dari lapangan tersebut menjadi salah satu sasaran yang terus diupayakan.
Perusahaan menargetkan produksi minyak dari Salawati dapat melampaui 2.000 barel. Target tersebut didukung oleh keberadaan Kilang RU VII Kasim yang, menurut Ardi, masih memiliki kapasitas untuk menampung tambahan pasokan minyak mentah.
Minyak yang dihasilkan dari Lapangan Salawati dikirim ke kilang tersebut untuk diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Rantai produksi ini memperlihatkan hubungan antara kegiatan di lokasi pengeboran dan kebutuhan energi masyarakat. Minyak yang ditemukan jauh di bawah permukaan tanah tidak berhenti sebagai angka produksi semata. Setelah melalui proses pengolahan, hasilnya dapat menjadi bagian dari pasokan BBM yang digunakan masyarakat.
Karena itu, setiap keberhasilan pengeboran memiliki arti lebih luas bagi keberlanjutan industri migas di Papua. Temuan cadangan baru berpeluang memperkuat produksi, sementara keberlanjutan operasi membuka ruang bagi kegiatan industri dan pengembangan sumur berikutnya.
Di Pulau Salawati, suara mesin dan hentakan besi masih menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Di baliknya, ada target yang harus dicapai, tantangan yang mesti diatasi, dan harapan agar potensi energi Papua terus dikembangkan.
Bagi Ardi dan tim PEP Papua Field, keberhasilan tiga sumur sebelumnya menjadi modal untuk melanjutkan pekerjaan di sumur keempat dan menyiapkan program berikutnya.
Harapannya sederhana, tetapi penting bagi keberlanjutan kegiatan migas di wilayah ini: pengeboran terus berlanjut, produksi meningkat, dan rig tetap beroperasi di Papua.
“Jangan pergi dari Papua.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Di tengah tantangan akses, cuaca, dan distribusi logistik, kalimat tersebut menjadi seruan agar peluang pengembangan migas di Tanah Papua tetap terbuka demi produksi energi hari ini dan potensi yang masih menunggu untuk ditemukan esok hari.
Selain memperjuangkan pengeboran sumur, Pertamani PEP juga memberdayakan Sumber Daya manusia (SDM). Romario Seorang Pemuda berusia 24 tahun asal Salawati yang masih berstatus lajang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) itu, ikut bergabung ke dunia rig status kerja kontraktot kurang lebih hampir 1 tahun. Ia mengaku menyukai tantangan baru dan ingin mengembangkan karirnya di bidang minyak dan gas.

Tugasnya sebagai Mud Boy yang bertanggung jawab menangani sirkulasi lumpur pada bagian drilling.
Romario yang sebelumnya mengawali pekerjaannya dari lokasi C4, kemudian berpindah ke E6, berlanjut ke F2 dan kini ditempatkan di F3 . Romario mempunyai rasa kebanggaan tersendiri karena sebagai putra asli Salawati dapat ikut bekerja mengelola potensi hasil bumi di daerah asalnya.
Dengan besar harapan Romari dapat terus berkembang di industri migas serta dapat memperdalam pemahaman mengenai sistem pengeboran di wilayah asalnya. Sehingga dengan begitu ia akan menjadi penerus anak cucu kedepan.















