Jusak Sunday, Aktivis Lingkungan Kabupaten Tambrauw. (Foto: Kumala Dewi)
Metro

Di Tambrauw Ada Ritual Pemanggilan Penyu Belimbing

Bagikan ini:
  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

SAUSAPOR, sorongraya.co – Aktivis Lingkungan Kabupaten Tambrauw, Jusak Sunday mengatakan di Tambrauw ada ritual pemanggilan penyu belimbing. Ritual pemanggilan penyu ini biasa dilakukan pada akhir bulan Juni, karena dianggap musim puncak peneluran penyu di pantai Jamursba Medi yang sekarang Jen Wowom

“Ritual Upacara pemanggilan penyu harus dilakukan menjelang senja ketika matahari terbenam, sebab saat itu merupakan waktu penyu untuk datang bertelur hingga malam hari,” ujarnya kepada awak media di halaman kantor Bupati Sausapor. Selasa, 30/10/18.

Menurutnya, semenjak di penyaluran Jen Wowom, populasi penyu semakin menurun karena terlalu banyak aktivitas riset yang berlebihan seperti, adanya suntikan, pengambil sampel dan lainnya sehingga penyu menjadi trauma dan takut. Maka berdasarkan adat pihaknya mendeklarasikan untuk dikembalikan ke masyarakat, karena masyarakat adat punya kesakralan bahkan untuk memanggil penyu belimbing untuk naik ke daratan.

“Kemarin waktu HUT tambrauw saat deklarasi dengan ditandai pelepasan Tukik (anak) penyu oleh Dirjen KSDA di pantai Sauorian, kami mau memanggil penyu belimbing naik ke daratan yang disaksikan semua orang, tetapi setelah berkoordinasi dengan ketua-ketua adat bahwa tempatnya tidak memungkinkan, tempatnya terlalu ramai untuk dipanggil,” kata dia

Lanjut dia, semua penyu belimbing yang ada di tambrauw adalah betina. Dimana penyu ini akan menyeberangi samudera pasifik untuk menemui penyu jantan di California dan untuk mencari makan (Ubur-ubur) dengan menempuh perjalanan sekitar enam bulan. Untuk penyu belimbing ukuran besar, sekali bertelur sekitar 100-150 butir , namun dari sekian banyaknya telur itu hanya sedikit yang bisa bertahan hidup. Yang uniknya ketika penyu belimbing bertelur proses keluarnya dari lubang akan dibantu oleh kepiting dan Kadal Air (Soa-soa).

“Jadi ketika penyu sudah bertelur maka pasti ada telurnya yang busuk, bau itu yang akan menjadi tanda itu untuk hewan lain mendekati, jadi ketika kepiting dan soa-soa menggali lubang tersebut pas bertepatan dengan telur-telur itu menetas, secara tidak langsung kepiting dan soa-soa sudah membantu penyu-penyu itu keluar,” ujarnya

Jusak berharap, Kepedulian sesama akan pentingnya menjaga penyu belimbing, karena 20 tahun ini penyu yang mampu bertahan hidup di laut kabupaten tambrauw kurang dari 300 ekor.

Penyu Belimbing yang bernama latin (Dermochelys coriacea) merupakan penyu terbesar di dunia yang mendekati kepunahan. Berdasarkan laporan WWF Indonesia selama 20 tahun terakhir. Jumlah spesies ini menurun dengan cepat akibat perburuan liar, khususnya di kawasan pasifik. Hanya sekitar 2.300 betina dewasa yang tersisa. [dwi]


Bagikan ini:
  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.