Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Sorong, yang membidangi Keuangan Kebersihan Perumahan, Laode Syamsir. (foto/trisnah/sr)
Metro

Anggaran Pengelolaan Sampah Sebesar 30 Miliar Masih Menjadi Polemik

Bagikan ini:

SORONG, sorongraya. co- Masalah sampah masih menjadi perbincangan hangat masyarakat Kota Sorong. Padahal anggaran yang tersalurkan ke Dinas Kebersihan Kota Sorong sebesar 30 miliar per tahun.

Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Sorong, yang membidangi Keuangan Kebersihan Perumahan, Laode Syamsir mengaatakan, dengan anggaran yang besar seperti itu harusnya Kota Sorong jauh lebih bersih. Mengingat Kota Sorong merupakan pintu utama bagi wisatawan yang datang.

” Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan bahwa dengan anggaran sebesar 30 miliar rupiah harusnya Kota Sorong ini jauh lebih bersih,” ujarnya.

Laode menyarankan, sebaiknya dinas kebersihan mengalokasikan anggaran ke Distrik, Kelurahan dan RT guna mengatasi permaslahan sampah yang ada sehingga kota yang dijuluki kota termaju di tanah Papua ini beraih dari sampah.

” Inilah yang saat ini kami sedang usahakan bahwa kesalahan masyarakat di lingkungan RT dan sebagainya yang lebih tahu adalah RT setempat. Maka dari itu kami upayakan agar anggaran juga tersalurkan ke mereka untuk penanganan sampah,” ungkapnya.

Anggaran yang kami upayakan tidak hanya untuk penanganan sampah di lingkungan RT/RW, kawasan wisata juga harus bersih dari sampah.

” Jangan sampai di pinggir jalan terdapat sampah berserakan. Hal itu sangat mengganggu pemandangan bagi wisatawan lokal maupun yang datang dari luar kota Sorong,” kata Syamsir.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan Kota Sorong, Andarias Adii ketika hendak dikonfirmasi di kantornya tidak berada di tempat.

Sebelumnya, masyarakat di seputaran km 12 sangat susah membuang sampah. Sampai harus ke Jalan Malibela baru bisa membuang smpah.

” Susah sekali buang sampah di sini kami di km 12 tidak tahu mau buang sampah di mana. Terpaksa harus ke Malibela sana,” salah seorang warga, sebut saja Andra.

Hal yang sama pun diungkapkan warga kilometer 10 bernama Alfathan. Kita buang sampah saja harus putar-putar dulu, cari tempat pembuangan sampah.

Jika anggaran untuk kebersihan sebesar 30 miliar, mengapa harus ada member seharga 100 ribu rupiah per bulan untuk mengangkut sampah setiap hari.

” Saya membuat kartu member langganan sampah. Jadi, setiap bulan saya harus membayat 100 ribu rupiah”, kata Alfathan.


Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.