Salah satu orang tua siswa SMA YPPK Agustinus Sorong, Yance Salambauw.
Hukum & Kriminal Metro

Orang Tua Siswa Bantah Adanya Dugaan Praktik Pungli di SMA YPPK Agustinus

Bagikan ini:

SORONG,sorongraya.co- Terkait pemberitaan dugaan pungutan liar (pungli) di SMA YPPK Sorong sangat disesalkan Yance Salambauw selaku orang tua siswa.

” Kami selaku orang tua murid sangat menyesalkan pernyataan dari saudara Loury da costa,” kata Yance Salambauw di Marina Star siang tadi.

Yance mengatakan, iuran atau bantuan yang diberikan murni berdasarkan kesepakatan dari orang tua siswa.

Ia menyebut bahwa ada dua pertemuan, yakni dengan Komite Sekolah dan pihak SMA YPPK Agustinus.

Pertemuan dengan pihak sekolah membahas tentang persiapan anak-anak menjelang Ujian Nasional termasuk les tambahan hingga perayaan kelulusan murid kelas 12.

” Untuk membiayai itu semua tidak bersumber dari mata anggaran wajib sekolah melainkan orang tua,” kata Yance.

Yance juga menjelaskan bahwa dari pertemuan tersebut saudara Loury menyepakati adanya bantuan.

” Jadi, kalau saat ini yang bersangkutan mengklaim ada dugaan pungli itu sama sekali tidak benar,” ujarnya.

Bahkan Yance mengaku, hampir semua orang tua siswa minus saudara Loury yang berpendapat demikian.

” Seluruh orang tua siswa menyatakan bahwa itu bukan pungli tetapi kemauan kita dalam rangka persiapan UN dan perpisahan dengan sekolah,” tegasnya.

Selain itu Yance membantah jika yayasan tidak mengetahui hal itu. Melalui surat nomor 0783/i/18.7.1 dan seterusnya tanggal 11 Januari 2024, perihal Pemberitahuan Pertemuan Orang Tua telah disampaikan kepada Ketua BP YPPK KMS yang isinya melaporkan tentang adanya keputusan orang tua siswa terhadap pemberian donasi 15.000 per bulan kepada Komite Sekolah.

Yayasan kemudian menjawab surat tersebut pada tanggal 12 Januari 2024, dengan surat nomor 487/A.15 dan seterusnya tentang sumbangan orang tua siswa.

” Sesungguhnya, tidak ada hal tersembunyi antara sekolah dengan yayasan dan komite sekolah atau komi sekolah dengan yayasan,” ujar Yance.

Yance memastikan bahwa semuanya telah tersampaikan berdasarkan prinsip-prinsip yang wajar.

” Kami selaku orang tua siswa keberatan jika sebelumnya yang bersangkutan telah ikut dalam proses pembahasan,” terangnya.

Yance lalu menambahkan, jika kemudian yang bersangkutan keberatan lalu terpaksa menerima keputusan itu lantaran semua orang tua siswa setuju. Harusnya sampaikan keberatannya itu apa sehingga pihak sekolah maupun komite bisa mencarikan solusi.

” Keputusan tersebut telah disetujui, makanya dibuatkanlah berita acara yang kemudian ditindaklanjuti oleh seluruh orang tua siswa,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa pihak yayasan sama sekali tidak keberatan. Diharapkan uang itu dapat dipertanggungjawbkan dan dilaporkan ke yayasan.

Bantuan siswa atau anak didik terhadap pendidikan bukanlah sesuatu yang melanggar hukum. Bukankah dalam UU Sisdiknas kan jelas, setiap peserta didik harus terlibat membantu dalam proses pendidikan. ” Cuma mekanisme harus jelas,” ungkap Yance.

Kembali Yance menegaskan bahwa kami sama sekali tidak keberatan dengan sikap sekolah maupun komite yang memikirkan bagaimana cara mempersiapkan anak-anak menghadapi UN hingga pesta perpisahan dengan sekolah.

Soal dana BOS, Yance mengaku, betul bahwa jumlahnya 1 miliar dalam setahun tetapi tidak cukup dan bukan semata-mata untuk membiayai kegiatan ini.

” Memang disiapkan 50 juta, itupun tidak cukup, makanya, selebihnya dibebankan ke setiap orang tua siswa sebesar 1,1 juta guna persiapan dari September hingga sekarang,” tandasnya.

Yance mengingatkan bahwa dana BOS disiapkan untuk kebutuhan pendidikan yang sangat mendasar.

” Dana yang dibebankan ke orang tua murid tidak sekadar habis untuk perpisahan semata, melainkan semua hal yang menyangkut persiapan anak,” tutupnya.


Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.