Diskusi dan pelatihan mengayam Noken di Bukit Faith, Kota Sorong.
Ekonomi & Bisnis

Diskusi dan Pelatihan Mengayam Noken di Bukit Faith, Kota Sorong

Bagikan ini:

SORONG,sorongraya.co- Komunitas Nokeners Domberai bekerjasama dengan Kelompok Pengelola Taman Bukit Faith Sorong menggelar diskusi, sharing dan pelatihan bersama mama-mama perajin dari Kampung Noken Kota Sorong. Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Youth Summit Menoken For Southeast Asia yang selenggarakan selama 3 hari, tanggal 19-21 Nopember 2021.

Merajut Noken, Merajut Kehidupan merupakan tema kegiatan diskusi kali ini karena noken dengan pola dan rajutan khasnya selalu menggambarkan isi hati sang perajutnya serta cerita kehidupan dari suatu komunitas adat di Papua.

Koordinator penyelenggara, Nova Wafom menyampaikan bahwa Noken ini adalah nilai budaya orang Papua. Kalau noken hilang, budaya kita juga bisa hilang. Makanya, generasi muda juga perlu belajar untuk menganyam noken.

Pengantar dari Nova sekaligus membuka diskusi antar pemuda dan mahasiswa serta mama-mama penganyam dari Kampung Noken yang mengambil bagian di dalam pertemuan ini.

Sementara Ketua Kelompok Kampung Noken, mama Dami Maladewa menyampaikan bahwa Noken memiliki hubungan yang erat dengan hutan. Karena bahan-bahan untuk membuat noken ini di ambil dari hutan.

Lebih lanjut mama Fami mengatakan, pada kegiatan kali ini setiap peserta yang hadir membawa serta beberapa jenis noken yang telah dianyam.

Menurutnya, hubungan antara hutan dan noken sangat erat karena bahan-bahan yang mereka gunakan adalah kulit kayu, rumput dan bambu yang semuanya diambil dari hutan. Misalnya kulit kayu Wowo (dalam bahas Suku Moi) adalah salah jenis kulit kayu yang digunakan sebagai bahan untuk anyaman noken serta buah Bis (dalam bahasa Suku Moi) buah hutan yang dipakai sebagai pewarna alami.

Inovasi, diversifikasi produk berbahan dasar anyaman noken, legalitas kelembagaan, hak kekayaan intelektual dan pemasaran produk menjadi beberapa isu yang juga terus diperjuangkan mama Fami dan anggota kelompok di kampung noken.

Mama Fami bersama dengan anggota kelompok penganyam noken bekerja dengan semangat dan tulus melestarikan noken khas Suku Moi.

Saat ini mereka terafiliasi di dalam 8 sub kelompok yang beranggotakan lebih dari 60 orang penganyam. Selain anyaman noken, mereka juga aktif dalam memproduksi kain tenun dan batik khas Suku Moi.

Mereka mendirikan sanggar dan rumah belajar kampung noken yang terletak di Km 12 Klasaman Kota Sorong. Rumah belajar tersebut sekaligus sebagai galeri dan toko untuk penjualan produk-produk hasil rajutan noken, tenun dan batik yang merek produksi.

Mama-mama Kampung Noken melatih perwakilan pemuda dan Mahasiswa untuk menganyam Noken.

“ Banyak pembeli yang langsung datang ke kampung noken untuk beli, kita tidak buat iklan kah untuk promosi. Jadi, kalau mau beli bisa langsung datang ke kampung noken,” kata Mama Fami merespon pertanyaan tentang bagaimana mereka memasarkan produk-produknya.

Semangat melindungi hutan melalui kegiatan menoken menjadi penting untuk terus digaungkan pemuda. Sehingga diskusi dan pelatihan ini juga melibatkan perwakilan mahasiswa dari University Victory, STIE Bukit Zaitun dan Komisariat GMNI Kota Sorong.

Dengan demikian terjadi jejaring kerja pemuda untuk terus mengkampanyekan perlindungna hutan, perlindungan budaya dan aksi bersama mendorong usaha masyarakat agar terus berinovasi, merespon permintaan pasar dan trend konsumsi saat ini.

Dengan begitu produk-produk budaya Papua dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat adat yang bergerak seirama dengan perlindungan hutan.


Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.