SORONG, sorongraya.co-Upaya menghidupkan kembali pangan lokal asli Papua menjadi semangat utama penyelenggaraan Papuan Food Festival 2026 yang resmi ditutup pada Sabtu (20/6/2026).
Melalui festival yang berlangsung sejak 16 Juni lalu, berbagai tradisi kuliner dari beragam suku di Tanah Papua diperkenalkan kembali kepada masyarakat sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Ketua Papuan Food Festival, Salsabila Andriana, mengatakan festival tersebut digelar untuk merayakan kekayaan tradisi pangan masyarakat asli Papua yang selama ini mulai terpinggirkan oleh masuknya berbagai jenis makanan dari luar daerah.
“Hari ini kita melaksanakan penutupan Papuan Food Festival 2026 yang sudah berlangsung sejak 16 Juni lalu. Acara ini dibuat dalam rangka merayakan dunia tradisional Papua, khususnya tradisi dan budaya pangan yang memiliki relasi erat dengan kehidupan masyarakat asli Papua,”ujarnya kepada awak media.
Berbagai sajian tradisional ditampilkan selama festival berlangsung. Mulai dari bakar bambu khas suku Moi, barapen atau bakar batu dari suku Biak, awiat dari Maybrat, hingga kuliner yang lebih dikenal masyarakat seperti papeda ikan ekor kuning dan sinole. Pada hari penutupan, pengunjung juga disuguhi sajian ulat sagu yang menjadi salah satu pangan tradisional masyarakat Papua.
Menurut Salsabila, festival tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya konsumsi pangan lokal di tengah maraknya produk pangan dari luar yang kini menjadi makanan sehari-hari sebagian masyarakat Papua.
“Sekarang banyak isu seperti deforestasi dan masuknya berbagai pangan dari luar Papua yang sudah sangat lazim dikonsumsi masyarakat. Karena itu kami ingin membuat sebuah event yang dapat mempopulerkan kembali pangan lokal yang asli dari tanah Papua,”katanya.
Dalam pelaksanaannya, Papuan Food Festival melibatkan berbagai komunitas dan kelompok kreatif. Di antaranya Senegi Papua, Gerakan Malam Moi, serta sejumlah pegiat budaya yang terlibat dalam penyelenggaraan pameran, diskusi publik, hingga pertunjukan seni.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, festival ini juga bertujuan memperkenalkan kembali ragam kuliner leluhur Papua kepada masyarakat Kota Sorong. Pasalnya, banyak makanan tradisional yang saat ini sulit ditemukan meskipun bahan bakunya tersedia melimpah di Papua.
“Beberapa sajian tradisional bahkan tidak bisa ditemukan di Kota Sorong. Tidak ada restoran atau warung yang menyajikannya. Padahal bahan-bahannya ada di sini. Karena itu menurut kami kegiatan ini sangat penting,”ungkapnya.
Salsabila menjelaskan, Papuan Food Festival 2026 merupakan penyelenggaraan pertama yang secara khusus mengangkat tema pangan lokal Papua. Sebelumnya, Lumbung Sagu terlibat dalam Festival Tumpe yang berfokus pada budaya masyarakat Moi.
“Tahun ini menjadi festival pertama yang spesifik membahas pangan lokal Papua. Ke depan kami berencana terus menyelenggarakan Papuan Food Festival sebagai agenda tahunan,”ujarnya.
Salah satu daya tarik utama festival ini adalah pameran hasil dokumentasi perjalanan tim selama tiga tahun terakhir dalam menelusuri tradisi pangan masyarakat adat di berbagai wilayah Papua. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan langsung proses memasak makanan tradisional melalui kegiatan live cooking yang dilakukan oleh para pelaku budaya dan masyarakat adat.
Pada hari pertama, mama-mama dari suku Moi memperagakan proses memasak dengan teknik bakar bambu. Sementara pada penutupan festival, masyarakat suku Biak menampilkan tradisi barapen atau bakar batu yang menjadi salah satu warisan budaya kuliner Papua.
“Pengunjung tidak hanya bisa melihat proses memasaknya, tetapi juga mencicipi makanan yang disajikan dan berdialog langsung dengan para pelaku budaya yang terlibat,”tambahnya Salsabila.

Sementara itu, Plt Direktur Hutan Belantara, Markus Wafom, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga keberlangsungan pangan lokal Papua.
Menurutnya, pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan harus bekerja sama untuk mempertahankan budaya pangan tradisional yang kini mulai ditinggalkan. Ia menilai selama beberapa dekade terakhir telah terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat Papua dari pangan lokal menuju beras dan pangan dari luar daerah.

“Kita harus berkolaborasi. Pemerintah, masyarakat, dan semua pihak perlu bersama-sama menjaga pangan lokal. Selama puluhan tahun, pola makan tradisional di Papua sudah banyak beralih ke beras. Pergeseran ini terjadi hingga ke kampung-kampung, sehingga kita perlu mengembalikan dan memperkuat pangan lokal yang menjadi bagian dari kearifan masyarakat Papua,”tutupnya.













