SORONG,sorongraya.co-Peringatan Hari Kartini setiap tahunnya kembali mengingatkan masyarakat Indonesia akan perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan.
Sosoknya dikenal luas melalui kumpulan surat yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang hingga kini menjadi simbol emansipasi dan perjuangan hak perempuan.
Di berbagai daerah, peringatan Hari Kartini diisi dengan beragam kegiatan seperti penggunaan pakaian adat atau kebaya di instansi dan sekolah, pelaksanaan upacara bendera, hingga lomba-lomba bertema perjuangan perempuan.
Kegiatan tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan sejak dini.
Secara makna, Hari Kartini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perempuan masa kini memiliki hak dan kapabilitas yang setara dengan laki-laki, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Namun demikian, perjuangan tersebut belum sepenuhnya usai.
Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang pesat, muncul tantangan baru yang justru mengkhawatirkan. Hal-hal yang dahulu dianggap tabu kini perlahan menjadi lumrah, termasuk meningkatnya kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan.
Sejumlah kasus yang terjadi di berbagai kampus dan sekolah menunjukkan bahwa perempuan masih kerap menjadi sasaran kekerasan, baik oleh oknum mahasiswa maupun tenaga pendidik.
Fenomena ini menjadi ironi, mengingat institusi pendidikan adalah ruang yang seharusnya menjadi tempat aman bagi perempuan untuk belajar dan berkembang sebagaimana cita-cita perjuangan Kartini.
Kasus-kasus tersebut tidak hanya mencerminkan degradasi moral, tetapi juga menunjukkan masih lemahnya perlindungan terhadap perempuan dari berbagai bentuk eksploitasi.
Di Papua Barat Daya dan sejumlah wilayah lainnya, bahkan terlihat adanya pergeseran bentuk eksploitasi dari ranah privat ke ruang publik. Kondisi ini semakin mempertegas urgensi upaya perlindungan yang lebih kuat dan menyeluruh.
Zatriawati, Anggota Bawaslu Papua Barat Daya, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, momen ini perlu dimaknai sebagai ruang edukasi sekaligus ajakan untuk bersama-sama memperjuangkan lingkungan yang aman dan setara bagi perempuan.
“Peringatan Hari Kartini harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang bebas dari diskriminasi serta eksploitasi terhadap perempuan,”ujarnya.
Dengan demikian, semangat Kartini tetap relevan hingga kini bukan hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai panggilan untuk terus melanjutkan perjuangan menuju keadilan dan kesetaraan yang sesungguhnya.(***)














