Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Muhammad Aidi yang didampingi Kapaldam XVII/Cenderawasih, Kolonel CPL. Dwi Soemartono saat memberikan keterangan Pers di Kantor Pendam XVII/Cenderawasih, Jayapura. Rabu, 26 Desember 2018. /Foto: Him
Tanah Papua

Kodam Cenderawasih Bantah Gunakan Bom Fosfor di Nduga

Bagikan ini:
  • 242
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    242
    Shares

JAYAPURA, sorongraya.co – Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Muhammad Aidi membantah jika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) tidak melakukan serangan menggunakan bom fosfor pada saat insiden penembakan di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

Pernyataan ini disampaikan pasalnya, ada pemuatan berita di Surat Kabar Australia “The Saturday Paper” bahwa Tentara Militer Indonesia menggunakan Bom Fosfor untuk melawan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Nduga beberapa waktu lalu.

“Personel TNI AD di Nduga tidak pernah menggunakan bom fosfor sebagaimana diberitakan surat kabar tersebut, mereka hanya mendapatkan informasi sepihak tanpa mengecek kembali keabsahan berita tersebut,” kata Aidi saat didampingi Kapaldam XVII Cenderawasih, Kolonel CPL. Dwi Soemartono. Rabu, 26 Desember 2018.

Aidi menegaskan, saat prajurit TNI AD melakukan perlawanan terhadap serangan KKSB di Nduga, prajurit hanya menggunakan granat tangan asap bukan bom fosfor. “Hanya granat tangan asap yang digunakan oleh semua pasukan infanteri di lapangan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Peralatan Daerah Militer (Kapaldam) XVII/Cenderawasih, Kolonel CPL. Dwi Soemartono, menjelaskan jika granat asap tangan biasanya dipakai sebagai penanda lokasi pendaratan helikopter di lapangan, bukan untuk menyerang.

Menurut Dwi, granat tangan asap ini berbahan selongsong aluminium, pemicu dari besi plat tipis dan tidak mengandung bahan peledak mematikan melainkan hanya memancarkan kabut asap dengan warna – warni sesuai keperluan. Cara kerjanya pun mirip seperti petasan.

Berbeda dengan bom fosfor yang mengandung bahan kimia asam fosfat yang biasa digunakan untuk membuat pupuk, produk pembersih dan produk lain, termasuk racun tikus. Fosfor dapat menyebabkan luka bakar jika bersentuhan dengan kulit terbuka, dan paparan dalam jumlah besar akan mengakibatkan kematian. Sementara asap fosfor dapat menimbulkan iritasi mata, selaput lendir hidung dan saluran pernafasan.

“Jadi, granat tangan asap ini ada yang warna orange, hijau dan ungu tergantung penggunaannya, caranya tarik pin pengunci kemudian lepas tuas, langsung keluar asap berwarna yang sangat tebal untuk melindungi diri prajurit dari serangan musuh,” terang Dwi.

Lanjut dijelaskan, granat tangan asap tidak bisa membunuh musuh maupun melukai seperti yang dituduhkan pihak TPN – OPM atau yang diberitakan media asing karena granat tangan asap hanya mengeluarkan asap kabut tebal.

“Jadi, isu-isu yang berkembang diluar akan serangan bom fosfor yang telah menewaskan warga sipil di kabupaten Nduga itu sama sekali tidak benar alias hoax,” pungkasnya. [him]


Bagikan ini:
  • 242
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    242
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.