UKIP Sorong menggelar lokakarya pelatihan pengolahan dan penilaian stok ikan puri pada program Champion di Kabupaten Raja Ampat (Foto: Derek Mambrasar)
Metro

USAID Sponsori UKIP Sorong Gelar Lokakarya Pengolahan Ikan di Raja Ampat

Bagikan ini:
  • 21
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    21
    Shares

WAISAI, sorongraya.co – United States Agency For International Development (USAID) bersama Universitas Kristen Papua (UKIP) Sorong menggelar lokakarya pelatihan pengolahan dan penilaian stok ikan puri pada program Champion di Kabupaten Raja Ampat. Kamis, 25/10/18.

Kegiatan yang berlangsung ini bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Perikanan yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut dan diikuti 20 pengusaha perikanan serta nelayan tradisional yang bertujuan sebagai upaya mendorong ketahanan masyarakat lokal.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, Jocobis Ayomi saat membuka acara menyampaikan, pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaannya harus mempertimbangkan hukum adat dan kearifan lokal serta memperhatikan peran masyarakat, berdasarkan Undang-undang No 45 Tahun 2009 Atas perubahan UU Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) secara resmi meluncurkan program Fair Trade yang diimplementasikan oleh perikanan dan program ini lebih fokus pada kebijakan berkelanjutan serta terjaminnya kelestarian sumber ikan.

“Melalui program ini pembudidayaannya ikan serta pengolahannya harus sesuai aturan,” ujarnya.

Sementara itu, Zulkifli Henan.S.Pi dari SMP Papua Barat menyampaikan materi tentang pendaftaran kapal Vesel registration manfaat dan prosesnya. Selanjutnya materi tentang perikanan berkelanjutan di indonesia Bioekologi ikan Puri disampaikan oleh Rudy Moningkey M.Sc.M.Si, Roger Talabessy,M.Si, Gasper manu M.Si

Koordinator Tim Peneliti Ikan Puri Stephanus V. Mandagi dalam materinya menyampaikan, melalui workshop di Yelu, Misool Selatan, telah dibahas melalui Forum Group Discussion (FGD) bahwa penangkapan ikan puri disana semakin berkurang, namun begitu pengetahuan masyarakat tentang biologi ikan puri harus ditingkatkan agar pembudidayaannya ikan di sana bisa jangka panjang.

” Ini bisa terjadi karena lokasi tangkap yang semakin jauh dan kondisi ekonomi yang tidak stabil,” kata Mandagi.

Menurutnya, penampung ikan untuk luar daerah lebih dominan karena lebih mendominasi dibanding masyarakat akan keterbatasan modal. Pendapatan masyarakat berkurang karena hasil  tangkap yang minim, maka harus dicarikan formulasinya.

“masalah lain soal proses pengeringan dan penyimpanan khususnya di musim hujan. Dimana musim ikan puri yang tidak menentu, kadang banyak kadang sedikit terutama musim angin tenggara, sedangkan musim barat hasil tangkapan ikan berkurang dengan adanya konflik wilayah pemanfaatan antara bagan, dan nelayan tradisional. Ini yang harus diselesaikan,” pungkasnya [drk]


Bagikan ini:
  • 21
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    21
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.