Bintang Laut Berduri (Acanthaster Planci)
Metro

Kolaborasi Perangi Populasi Bintang Laut Berduri di Perairan Raja Ampat

Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WAISAI,sorongraya.co- Lebih dari 80 orang menghadiri pertemuan di kantor Bupati Raja Ampat, Antusiasme kolektif tersebut digerakkan oleh keprihatinan para semua pihak akan serangkaian kejadian terkait dengan peningkatan populasi Bintang Laut Berduri (Acanthaster Planci) secara signifikan di perairan Raja Ampat.

Pertemuan yang berlangsung digagas oleh Unit Pelaksana Teknis Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, dengan menggandeng Conservation International Indonesia, Raja Ampat Science Education Awareness Centre, dan PT Emerald Ocean Nusantara Engineering. Yang berlangsung Aula kantor Bupati Raja Ampat. Senin 10/9/18

Banyak laporan ‘informal’ yang bersumber dari beragam individu dari beberapa wilayah di Kabupaten kepulauan ini berujung kepada serangkaian aksi kolektif di lapangan yang merentang sepanjang paruh pertama tahun 2018. Mulai dari aksi bersama yang dilakukan oleh masyarakat, wisatawan- cum- relawan, perwakilan industri wisata, dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang sepanjang bulan April hingga Juni. Kegiatan di perairan sekitar Selat Dampier hingga kepada pelaksanaan gerakan “Menghadap ke Laut” di Raja Ampat pada medio Agustus lalu. Kesemuanya merupakan respon terhadap banyaknya populasi Bintang Laut Berduri.

Pertemuan yang berlangsung di Aula kantor Bupati Raja Ampat.

Kekuatiran tersebut tentunya beralasan. Jika populasi dari bintang laut berduri atau dikenal dengan nama Bulu Seribu telah melebihi ambang batas sebanyak 30 individu per hektar. Tak heran jika fungsinya dalam ekosistem akan bergeser dari ‘penyeimbang’ menjadi ‘pemangsa’ yang akan mengkolonisasi suatu habitat, dalam hal ini terumbu karang secara masif hingga berujung kepada kerusakan.

Rusaknya suatu habitat tentunya akan berdampak langsung pada aktivitas pemanfaatan di dalam kawasan konservasi perairan, yang dalam konteks Raja Ampat didominasi oleh sektor perikanan dan pariwisata.

Sekretaris Daerah Kabupaten Raja Ampat, Dr. Yusuf Salim, S.E., M.Si dalam pembukaannya menyatakan, Raja Ampat ini milik kita semua, bukan hanya pemerintah dan LSM semata. Seminar ini juga penting untuk pelaku industri pariwisata. Yusuf Salim menekankan, pemerintah mendukung penuh, dan akan menanggapi hal ini dengan serius.

“Dinas Kelautan dan Perikanan berkoordinasi dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Dinas Pariwisata serta SKPD terkait lainnya, akan melakukan penanganan bintang laut berduri secara rutin,” ujarnya.

Dalam presentasinya mengenai fakta-fakta seputar bintang laut berduri, ilmuwan di bidang koservasi di Raja Ampat, Dr. Mark V. Erdmann memaparkan, selain berkurangnya predator alami, aktivitas manusia dan salinitas air yang lebih rendah juga turut berkontribusi dalam perkembangan populasi bintang laut berduri.

“jika kita semua mempunyai informasi yang sama, maka kita bisa membuat rencana aksi bersama untuk menangani ini,” ujarnya.

Dr. Mark V. Erdmann, dalam presentasinya mengenai fakta-fakta seputar bintang laut berduri, ilmuwan di bidang koservasi di Raja Ampat.

Disisi lain, presentasi dari Vice President Marine Program Conservation International Asia-Pasifik segera dilanjutkan dengan pemaparan mengenai metode penanganan bintang laut berduri dengan menggunakan larutan cuka yang disuntikan oleh Warwick Alliston dari PT Emerald Ocean Nusantara Engineering.

“Kehadiran Warwik ditandai dengan perkenalan unit perangkat injeksi lebih efektif jika dipergunakan oleh operator wisata yang artinya, para pihak yang memang aktivitasnya di laut cukup tinggi,” jelasnya.

Berbagi metode pengangkatan bintang laut berduri dengan menggunakan sumpit bambu

Selaras dengan Warwick Alliston, Senior Officer MPA Monitoring untuk Program Kelautan Raja Ampat CI Indonesia, Ronald Mambrasar berbagi metode pengangkatan bintang laut berduri dengan menggunakan sumpit bambu. Ini dikatakan Ronald berdasarkan pengalamannya menangani ledakan populasi di sekitar wilayah Kawasan Konservasi Perairan Daerah Selat Dampier, lebih khusus Kampung halamannya Arborek,” ucapnya.

Sementara itu, pegiat lingkungan hidup, Raja Ampat Science Education Awareness Centre Arnaud Brival menegaskan, berangkat dari semangat kolektivitas gagasan penanganan ledakan populasi bintang laut berduri, pihaknya telah mengembangkan sebuah dokumen berbasis online yang dapat diakses oleh siapapun yang berminat untuk melibatkan dirinya dalam inisiatif ini. [jun]


Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.