(Foto/google)
Metro

Dikepung Bencana Ekologis Oleh : Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia

Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SORONG,sorongraya,co- Lembaran baru tahun 2021 dibuka dengan bencana melanda di sejumlah wilayah. Tak lama setelah peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, gempa bumi mengguncang Kabupaten Mamuju dan Majene Sulawesi Barat pada 14 Januari lalu. Gempa dengan magnitudo 6,2 itu meluluhlantakkan bangunan dan memakan korban jiwa.

Sekitar hampir 90 ribu orang mengungsi dan berdasarkan data hingga Sabtu, 23 Januari, tercatat jumlah korban meninggal sebanyak 91, tiga korban hilang, 320 orang mengalami luka sangat berat, 426 mengalami luka berat, 240 orang luka sedang, dan dua ribu lebih menderita luka ringan.

Di waktu hampir bersamaan, banjir juga melanda sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Selatan. Hujan lebat dan angin kencang kurun 12-14 januari lalu, disebut sebagai penyebab banjir. Akses jalan terputus. Banjir menggenangi 10 kabupaten dan membuat setidaknya 24 ribu lebih rumah terendam, memaksa hampir 40 ribu jiwa mengungsi, dan 15 orang meninggal. Inilah bencana banjir terbesar dalam 50 tahun terakhir di pulau Borneo itu.

Selain banjir, longsor juga terjadi di Manado Sulawesi Utara selang dua hari kemudian. Lagi-lagi katanya faktor hujan dengan intensitas tinggi membuat struktur tanah labil. Banjir menerjang menggenangi kawasan hingga tiga meter. Sebanyak 500 jiwa orang harus mengungsi serta lima orang dilaporkan meninggal.

Sebelum Manado, Kabupaten Sumedang Jawa Barat pada 9 Januari sudah dulu dihantam longsor. Berdasarkan data, seribu orang lebih mengungsi akibat bencana tersebut.

Di balik faktor cuaca, sejumlah bencana juga ditengarai akibat daya dukung lingkungan yang memburuk. Terutama wilayah Kalimantan Selatan yang akhir-akhir ini menuai sorotan. Provinsi tersebut berdasarkan catatan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), mengalami deforestasi akibat aktivitas tambang batu bara dan perkebunan sawit. Potensi bencana seakan sudah mengintai seturut izin konsesi yang massif ditambah lemahnya pengawasan atas pelaksanaan izin tersebut.

Di Kalimantan Selatan, berdasarkan catatan JATAM setidaknya terdapat 553 Izin Usaha Pertambangan (IUP) Non-CnC dan 236 IUP CnC. Tak heran jika kerusakan lingkungan dan alih fungsi kawan hutan menjadi tak terkendali.

Tak hanya di Kalimantan, di daerah lain yang juga menjadi langganan banjir, tata ruang dan pola pemanfaatan ruang disinyalir menjadi pemicu bencana alam kerap terjadi. Seiring bencana yang terus menerus terjadi, pemerintah masih belum maksimal melakukan mitigasi dan menyusun perencanaan pembangunan yang berorientasi pada risiko bencana.


Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.