Bupati Bintuni, Petrus Kasihiw saat dinobatkan sebagai Kaogesa Malambu (Pemimpin Dermawan) oleh Sultan Buton H. La Ode Muhamad Manarfa, M. Si. Selasa, 11 Desember 2018. /Foto: Istimewa
Metro

Bupati Bintuni Dinobatkan Sebagai Kaogesa Malambu Oleh Sultan Buton

Bagikan ini:
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    37
    Shares

BINTUNI, sorongraya.co – Bupati Kabupaten Teluk Bintuni, Ir.Petrus Kasihiw.MT. dinobatkan sebagai Kaogesa Malambu (Pemimpin Dermawan) oleh Sultan Buton H. La Ode Muhamad Manarfa, M. Si yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG).

Penobatan ini dilangsungkan karena
Lembaga Kesultanan Buton menilai Bupati Bintuni telah banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat buton yang berdomisili di bintuni

“Selama ini Lembaga Kesultanan Buton belum pernah memberikan gelar kepada siapapun. Bupati Bintuni, Ir.Petrus Kasihiw.MT. merupakan Bupati pertama di Indonesia yang yang diberikan gelar Kaogesa Malambu,” ujar Sultan. Selasa, 11 Desember 2018.

Menurut Sultan, gelar serupa pernah diberikan untuk beberapa petinggi antara lain, Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Agama, Pelaksana Gubernur Sulawesi Tenggara, Pangdam dan Pangestu. Sedangkan untuk jabatan Bupati, ini merupakan pertama kali diberikan kepada bupati teluk bintuni.

“Gelar Kaogesa Malambu adalah gelar Pemimpin Yang Dermawan untuk seseorang yang berkontribusi menjaga adat istiadat buton di Bintuni,” kata Sultan

Sri Sultan dam Bupati bersama saat penandani gelar Kaogesa Malambu. /Foto: Istimewa

Menanggapi pemberian gelar dari Sultan, Petrus Kasihiw mengucapkan terima kasih, sembari terkejut dan tidak  menyangka dengan gelar yang diberikan langsung oleh Sri Sultan Buton ke- 4.

Menurutnya Petrus, awalnya ia mengira kedatangan Sri Sultan untuk menyaksikan pengukuhan Pengurus KKST di bintuni, ternyata suatu agenda yang luar biasa telah disusun secara rapi dan tidak terduga.

“Untuk itu selaku pribadi dan pemerintah daerah, kami hanturkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan rasa hormat setingi tingginya kepada Sri Sultan dan Pejabat Kerajaan Kesultanan Buton serta warga KKST Provinsi papua barat terlebih khusus di kabupaten teluk bintuni. Gelar ini merupakan sebuah kehormatan bagi saya dan keluarga serta juga masyarakat Bintuni,” kata Pertrus

“Mudah mudahan apa yang sudah diberikan ini saya pertanggungjawabkan secara moril kepada seluruh KKST di Teluk Bintuni dan Provinsi Papua Barat,”tambahnya.

Foto bersama Sultan Buton bersama Bupati teluk bintuni /Foto: Istimewa


Ia menambahkan, pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin menceritakan asal usul marga Kasihiw. Marga Kasihiw hanya ada di satu kampung di kei yang sebenarnya bukan asli orang kei tetapi imigran. Berdasarkan cerita ribuan tahun lalu, marga Kasihiw merupakan punggawa punggawa dari Kerajaan Buton, dan ketika Kerajaan Buton mengalami peperangan saat itu, sebagian punggawa tersebut menyelamatkan diri ke daerah lain.

Saat itu, nenek moyang kami bermigrasi ke Nusa Laut Provinsi Maluku dan menetap disana. Karena adanya perselisihan terkait harta dan jabatan, akhirnya keluarga tertua meninggalkan Nusa Laut dan menetap di Maluku Tenggara (Kei). Namun, untuk semua itu perlu penelitian untuk mengkaji lebih mendalam. Akan tetapi jikalau cerita itu benar adanya, maka saya merupakan titisan dari Buton, Maluku dan Papua,” pungkas Petrusnya. [dwi]


Bagikan ini:
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    37
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.