SORONG, sorongraya.co-Tempat ternyaman untuk pulang kini tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah serpihan kayu, puing-puing, dan dinding rumah yang menghitam akibat dilalap sijago merah. Sesaat sebelumnya, tempat itu masih menjadi rumah bagi Risdawati. Di sana, ia bisa tidur nyenyak di kasur empuk, memasak, bercanda bersama keluarga, serta bermain dengan kedua buah hatinya.

Namun, dalam sekejap, semuanya berubah menjadi air mata dan kesedihan. Tak satu pun barang berharga yang berhasil diselamatkan. “Barang habis terbakar, tidak bisa kita selamatkan padahal saya baru tinggal dirumah itu baru delapan bulan”ujar Risdawati, salah satu korban kebakaran. Jumat (3/7/2026).
Sambil meneteskan air mata, Risdawati hanya bisa pasrah menerima keadaan.
Di tengah kehilangan itu, ia tetap menyimpan harapan agar apa yang telah musnah dapat tergantikan. Peristiwa tersebut menjadi mimpi buruk bagi Risdawati. Saat kebakaran terjadi, ia terbangun dalam kepanikan. Tanpa berpikir panjang, Ia berlari menyelamatkan kedua anaknya seorang diri.
“Waktu kebakaran, saya menyelamatkan anak saya. Satu digendong dan satu lagi digandeng,”tuturnya.

Ia bersyukur karena dirinya dan kedua anaknya selamat dari kobaran api. Maryam yang baru berusia empat bulan dan Fatimah yang berusia tiga tahun kini menjadi alasan terbesarnya untuk tetap kuat.
“Tapi saya bersyukur, saya dan anak-anak selamat. Maryam masih usia empat bulan dan Fatimah tiga tahun,”katanya dengan penuh rasa syukur.
Saat kejadian berlangsung, suami Risdawati tidak berada di rumah. Ia tengah mencari nafkah di tengah lautan sebagai seorang nelayan.
Keseharian Risdawati adalah sebagai ibu rumah tangga, sementara suaminya harus pergi melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tak jarang, sang suami harus berbulan-bulan berada di laut sebelum kembali ke rumah.
“Suami pulangnya nanti sekitar bulan Agustus 2026,”ungkap ibu dua anak itu sambil meneteskan air mata.

Siapa sangka, peristiwa nahas tersebut ternyata bukan kali pertama terjadi di kawasan itu. Risdawati baru mengetahui bahwa kebakaran serupa pernah terjadi sekitar 10 tahun silam.
“Saya baru tahu kalau kebakaran ini sudah dua kali,”jelasnya dengan nada tercengang.
Kebakaran hebat itu terjadi di Kompleks Klademak II Pantai, Kelurahan Malawei, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Rabu (24/6/2026).

Menjelang waktu subuh, sekitar pukul 04.00 WIT, api mulai membesar dan dengan cepat melahap rumah-rumah warga. Petugas pemadam kebakaran baru berhasil memadamkan api sekitar pukul 08.00 WIT. Proses pemadaman juga diperhadapkan dengan kondisi akses jalan menuju kompleks yang sangat sempit.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, 160 jiwa harus kehilangan tempat tinggal. sebanyak 95 rumah warga hangus terbakar. Diantanya 80 rumah rusak berat dan 15 rumah rusak ringan.
Dari pihak kepolisian menduga kebakaran dipicu oleh korsleting listrik di salah satu rumah warga.
“Berdasarkan keterangan saksi api mulai berkobar sekitar pukul 05.00 WIT dan bersumber dari lorong satu dan dua rumah apung Klademak,” ujar Kapolsek Sorong Kota, AKP Diza Javier Suwarta Putra kepada awak media. (25/6/2026).
Tak ada pilihan lain. Risdawati bersama warga lainnya terpaksa meninggalkan puing-puing rumah mereka dan tinggal sementara di tenda pengungsian.
Disana, mereka harus melewati malam dengan udara dingin dan menghadapi panas terik pada siang hari.
Di dalam tenda, Risdawati tidur berjejer bersama warga pengungsi lainnya tanpa sekat pembatas. Di tempat sederhana itulah, ia benar-benar merasakan kehilangan rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung dan tempat pulang bagi keluarganya.
Namun, kehadiran kedua anaknya, Maryam dan Fatimah, menjadi kekuatan bagi Risdawati untuk terus bertahan dalam situasi sulit tersebut.
Ditengah kehilangan yang dialaminya, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada warga yang terdampak kebakaran, terutama dengan membantu menyediakan dukungan dana untuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang telah terbakar habis.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, melalui Dinas lingkungan Hidup, berkomitmen memberikan dukungan dan semangat kepada warga Kota Sorong yang terdampak musibah, menekankan kolaborasi dengan berbagai pihak seperti SKK Migas dan Pertamina, serta mengidentifikasi kebutuhan mendasar yaitu ketersediaan air bersih.
Sebelumnya, Gubernur Provinsi Papua Barat Daya, Elisa Kambu telah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi dan akan memberikan pendampingan dari sisi kebijakan, rencana, dan program.

“Mereka tidak sendiri,” ujar Kepala dinas Lingkungan Hidup, Julian kelly kambu.
Empati Pemimpin yang selalu menekankan untuk tidak melihat masyarakatnya menderita atau menangis, dengan filosofi “tersenyumlah dengan mereka yang tersenyum dan menangislah dengan mereka yang menangis.”tambahnya.
Banyak pihak yang peduli dan membantu meringankan musibah,
“Terima kasih kepada Pertamina dan SKK Migas kolaborasi yang luar biasa,” ucapnya.
Harapan kelly, kolaborasi ini tidak berakhir, melainkan terus membangun koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi ke depan.
Terdapat minimnya unit pemadam kebakaran di Kota Sorong, padahal Pertamina dan Bandara Deo memiliki mobil pemadam kebakaran. Polres juga memiliki unit pemadam.
Perlu adanya rapat koordinasi untuk mengoptimalkan penggunaan mobil pemadam kebakaran yang ada dari berbagai instansi (Pertamina, Bandara Deo, Polres) saat terjadi kebakaran, agar tidak hanya mengandalkan pemadam dari pemerintah kota.
Selain itu, Penataan kota harus mencakup ruang yang bisa diatur agar masyarakat sehat, sejalan dengan slogan “kita sehatkan lingkungan, lingkungan sehatkan kita.”tegasnya.
Bumi sudah “mendidih,” bukan lagi panas, sehingga sedikit percikan bisa menyebabkan kebakaran atau konflik antar manusia, menunjukkan dampak iklim yang luar biasa.
Pemerintah akan gelar rapat koordinasi untuk mobil-mobil pemadam kebakaran dari berbagai instansi yakni Pertamina, Bandara Deo, Polresta Sorong kota agar dapat digerakkan saat terjadi kebakaran.

Menanggapi musibah kebakaran tersebut, PT Pertamina EP (PEP) Papua Field, bagian dari Zona 14 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, menyalurkan bantuan melalui program sinergi.
“Kita kebetulan memiliki program sinergi. Saya pikir ini merupakan hal yang sangat positif. Memang, kejadian seperti ini merupakan sesuatu yang tidak kita inginkan. Namun, ketika musibah sudah terjadi, mau tidak mau kita harus turun tangan dan ikut mengambil bagian dalam penanganannya, terutama karena lokasi ini merupakan wilayah ring satu bagi kami dan berada dekat dengan kantor,”ungkap Field Manager Pertamina EP (PEP) Papua Field, Ardi.
Menurutnya, kepedulian terhadap kondisi masyarakat di lingkungan sekitar merupakan sebuah kewajiban yang harus segera dilakukan.

“Kami hadir bukan hanya untuk memberikan bantuan, tetapi juga memberikan semangat dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka tidak sendiri. Kami ingin menyampaikan bahwa kami bersama-sama dengan masyarakat dan akan terus mendistribusikan kepedulian kepada warga di sekitar, dengan harapan bantuan ini dapat memberikan manfaat, baik bagi orang tua maupun terutama anak-anak,”ujarnya.
Aspek psikologis masyarakat juga perlu menjadi perhatian agar mereka tidak terlalu terganggu akibat kejadian yang menimpa mereka dan tetap dapat beraktivitas seperti semula.
Pertamina berharap bantuan ini tidak hanya diberikan sekali, tetapi dapat berkesinambungan. Dengan demikian, masyarakat yang terdampak dapat secara bertahap memulihkan kehidupannya dan kembali menjalani aktivitas secara normal.

Untuk bantuan yang diberikan, ada beberapa barang yang telah dikumpulkan dari para pekerja dan keluarga besar PT Pertamina EP (PEP). Selain itu, Pertamina juga memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok, makanan, dan kebutuhan lainnya.
“Kami juga menitipkan sedikit bantuan biaya dengan harapan dapat sedikit banyak membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang saat ini masih diperlukan,”ungkap Ardi.
Menurut Ardi, upaya perbaikan tersebut jangan hanya sekadar mengembalikan kondisi seperti semula. Kejadian ini harus menjadi pembelajaran untuk ke depan.
“Dari informasi yang kami terima, kebakaran serupa juga pernah terjadi sekitar 10 tahun lalu. Artinya, potensi kejadian yang sama untuk kembali terjadi tetap ada,”katanya.
Karena itu, ia berharap apabila nantinya dilakukan pembangunan kembali, aspek-aspek yang berpotensi menimbulkan kejadian serupa dapat dimitigasi sejak awal.
“Yang kedua, mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Jika nantinya dilakukan pembangunan kembali, kebutuhan dasar masyarakat jangan sampai dilupakan,”ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut mencakup ketersediaan air bersih, fasilitas MCK, serta kebutuhan dasar lainnya. Apalagi, lokasi tersebut berada di kawasan pinggir laut sehingga aspek tersebut menjadi sangat penting untuk diperhatikan.
Ketersediaan air bersih juga akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dan dapat menimbulkan berbagai dampak lainnya apabila tidak terpenuhi.
“Jadi, harapan kami, Pertamina EP juga dapat terus berkolaborasi dan ikut membantu masyarakat agar dapat bangkit dan tumbuh kembali, tetapi dengan kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya,”pungkasnya.
Meski bantuan telah diterima, Risdawati mengaku masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, terutama susu untuk anak, popok, serta kebutuhan nutrisi lainnya.
Sebab, bagi Risdawati, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat untuk pulang, tempat membesarkan anak-anak, dan tempat menyimpan begitu banyak kenangan.
Kini, semuanya tinggal puing dan serpihan kayu. Di balik air mata itu, masih ada harapan seorang ibu agar suatu hari nanti ia dan keluarganya kembali memiliki tempat untuk pulang.
Di antara puing-puing rumah yang pernah menjadi tempatnya berteduh, Risdawati kini hanya bisa menunggu. Menunggu suaminya pulang dari laut, menunggu keadaan kembali membaik, dan menunggu hari ketika ia bersama kedua anaknya dapat kembali memiliki rumah untuk pulang.















