SORONG, sorongraya.co – Lembaga Masyarakat Adat Papua Barat Daya melalui Ketua Harian nya, Franky Umpain, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat adat melalui kegiatan sosial bertajuk “LMA Papua Barat Daya Menyapa Warga Wonosobo dan Klasof” yang dilaksanakan di Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu malam 17 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 21.00 hingga 23.00 WIT tersebut diisi dengan pembagian bantuan sembako sekaligus dialog bersama masyarakat adat Kampung Wonosobo dan Kampung Klasof untuk mendengarkan secara langsung berbagai aspirasi serta persoalan yang dihadapi warga setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program sosial rutin LMA Papua Barat Daya sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat adat, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan antara lembaga adat dan masyarakat di wilayah Papua Barat Daya. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Ketua LMA Kabupaten Sorong, Kornelis Usili; Ambrosius Klagilik selaku Tokoh Muda Intelektual Moisegen; serta Paulus Modok selaku Ketua Forum Masyarakat Nusantara Kampung Klasof.
Tak Sekadar Berbagi Sembako, LMA Papua Barat Daya Hadir Mendengarkan Aspirasi Warga
Dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan, Franky Umpain berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan berbagai keluhan, harapan, serta aspirasi yang berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat adat.
Melalui kegiatan tersebut, Franky Umpain menekankan pentingnya kehadiran lembaga adat di tengah masyarakat, tidak hanya dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat, tetapi juga sebagai wadah untuk menampung serta memperjuangkan aspirasi masyarakat adat.
LMA Papua Barat Daya berupaya untuk terus membangun komunikasi dengan masyarakat adat di berbagai wilayah, sehingga setiap persoalan yang disampaikan dapat menjadi perhatian dan diupayakan penyelesaiannya melalui koordinasi bersama pemerintah daerah maupun pihak terkait.
Program Menyapa Warga ini juga menjadi sarana memperkuat hubungan antara pengurus LMA Papua Barat Daya, tokoh adat, dan masyarakat, sekaligus memastikan bahwa aspirasi masyarakat di tingkat kampung dapat tersampaikan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Masyarakat Adat Sampaikan Keluhan Terkait Hak Ulayat dan Perkebunan Sawit
Dalam sesi dialog, masyarakat adat Kampung Wonosobo dan Kampung Klasof turut menyampaikan sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi, khususnya berkaitan dengan aktivitas beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta yang beroperasi di wilayah Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong.
Sejumlah warga mengeluhkan belum optimalnya pemenuhan hak-hak masyarakat adat oleh perusahaan perkebunan yang menjalankan aktivitas usaha di wilayah tanah ulayat mereka.
Menurut keterangan masyarakat, terdapat sejumlah marga pemilik hak ulayat yang telah menyerahkan lahan adat untuk pengelolaan perkebunan kelapa sawit melalui skema kemitraan maupun kebun plasma. Namun, hingga saat ini masyarakat mengaku belum memperoleh manfaat ekonomi yang sesuai dengan harapan.
Warga menyampaikan bahwa sejumlah kebun kelapa sawit telah memasuki masa menjelang panen, tetapi pembagian hasil plasma kepada pemilik tanah ulayat dinilai belum memiliki kejelasan.
Selain itu, masyarakat turut mempertanyakan perubahan mekanisme pembayaran dari dana talangan bulanan menjadi kompensasi yang dianggap belum memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat adat.
Persoalan lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah adanya informasi mengenai kewajiban utang dalam pengelolaan kebun plasma yang dikaitkan dengan tanah ulayat milik sejumlah marga.
Berdasarkan penuturan warga, nilai kewajiban tersebut disebut dapat mencapai miliaran rupiah. Namun, masyarakat mengaku belum memperoleh penjelasan secara transparan mengenai dasar perhitungan, sumber pembiayaan, maupun mekanisme pengembalian kewajiban tersebut.
Bahkan, sejumlah pemilik hak ulayat mempertanyakan adanya pembiayaan melalui lembaga perbankan yang dikaitkan dengan lahan adat mereka, sementara warga mengaku tidak pernah secara langsung melakukan penandatanganan perjanjian kredit dengan pihak bank.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat adat karena lahan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan justru dinilai belum memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi para pemilik hak ulayat.
Masyarakat berharap adanya keterbukaan informasi mengenai pengelolaan kebun plasma, pembagian hasil usaha, serta status kewajiban pembiayaan yang dikaitkan dengan tanah adat mereka.
Berbagai keluhan tersebut merupakan aspirasi yang disampaikan masyarakat dalam pertemuan dan masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari pihak perusahaan maupun instansi terkait.
LMA Papua Barat Daya Diharapkan Fasilitasi Penyelesaian Persoalan Masyarakat Adat
Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan, Franky Umpain memberikan perhatian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat adat, khususnya menyangkut perlindungan hak ulayat dan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan perkebunan.
Melalui perannya sebagai Ketua Harian LMA Papua Barat Daya, Franky Umpain berupaya menjadikan lembaga adat sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak perusahaan dalam mencari penyelesaian yang adil serta mengedepankan kepentingan bersama.
Berbagai aspirasi yang telah disampaikan masyarakat akan menjadi bahan perhatian LMA Papua Barat Daya untuk selanjutnya dikaji dan, sesuai kewenangan yang dimiliki, diupayakan fasilitasi melalui komunikasi serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya transparansi dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit, memberikan kepastian terhadap hak-hak masyarakat adat, serta memperkuat hubungan kemitraan yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pelaku investasi.
LMA Papua Barat Daya juga memandang pentingnya penyelesaian setiap persoalan melalui dialog dan musyawarah dengan tetap menghormati ketentuan hukum yang berlaku serta hak-hak masyarakat adat sebagai pemilik tanah ulayat.
Dengan demikian, keberadaan investasi di wilayah Papua Barat Daya diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat adat.
Warga Wonosobo dan Klasof Apresiasi Kepedulian Ketua Harian LMA Papua Barat Daya
Di akhir kegiatan, masyarakat Kampung Wonosobo dan Kampung Klasof menyampaikan rasa terima kasih serta apresiasi atas perhatian yang diberikan Franky Umpain melalui pembagian bantuan sembako dan kesediaannya mendengarkan secara langsung berbagai aspirasi warga.
Masyarakat menilai kehadiran Ketua Harian LMA Papua Barat Daya menjadi bentuk perhatian terhadap kondisi masyarakat adat, khususnya warga yang selama ini menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi di wilayahnya.
Warga juga berharap agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga hubungan antara lembaga adat dan masyarakat semakin erat serta berbagai aspirasi yang disampaikan dapat memperoleh tindak lanjut.
Melalui kegiatan Menyapa Warga, LMA Papua Barat Daya berupaya memperkuat perannya sebagai lembaga yang hadir, mendengar, dan mengayomi masyarakat adat, sekaligus menjadi wadah komunikasi dalam memperjuangkan kepentingan serta kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan sosial ini sekaligus menegaskan komitmen LMA Papua Barat Daya untuk terus menjangkau masyarakat hingga ke tingkat kampung, membangun kebersamaan, serta mendorong terwujudnya masyarakat adat yang mandiri, sejahtera, dan bermartabat di tanah Papua Barat Daya.

















