Sumber Foto (Google)
Ekonomi & Bisnis

Tiga Distributor dan 6 Kadis Perdagangan Dimintai Keterangan Terkait Kelangkaan Migor

Bagikan ini:

SORONG,sorongraya.co- Pasca penyelidikan dan penyidikan yang di lakukan oleh Kejaksaan Agung terkait kuota minyak goreng ekspor, imbasnya terasa hingga ke seluruh daerah di Indonesia.

Terlebih khusus wilayah Sorong Raya, karena sejumlah pihak yang terkait dengan minyak goreng di panggil untuk memberikan keterangan.

Kepala Kejaksaan Negeri Sorong melalui Kepala Seksi Intelijen, I Putu Sastra Adi Wicaksono membenarkan bahwa pihaknya telah memanggil tiga distributor minyak goreng dan Kepala Dinas Perdagangan yang ada di wilayah Sorong Raya.

Sampai hari ini kami sudah memeriksa Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sorong Marthen Luther Pajala, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Raja Ampat Samsudin Nimanuho dan Kadis Perdagangan Kabupaten Sorsel Agustinus Wamafma.

Sementara yang belum datang memenuhi undangan kami Kadis Perdagangan Kota Sorong, Kabupaten Maybrat dan Kadis Perdagangan Kabupaten Tambrauw,” kata Sastra.

Sastra pun menambahkan, kepala-kepala dinas perdagangan ini kami mintai keterangan masih terkait kelangkaan minyak goreng yang sampau hari ini masih dirasakan oleh masyarakat.

Selain itu, bagaimana pendistribusiannya kepada masyarakat termasuk pengawasan terhadap harga jual di pasaran.

Sebelumnya, Jumat, 27 Mei 2022 kepala dinas perdagangan kabupaten Raja Ampat Samsudin Nimanuho mengatakan, pemanggilan ini terkait dengan kasus minyak goreng, yang mana sudah ditetapkan tersangkanya di Jakarta.

Dijelaskan oleh Samsudin, terkait minyak goreng, distributornya kan ada di Sorong. Jadi, kalau di Sorong minyak goreng sudah langka, imbasnya pasti akan kita di Raja Ampat.

” Kalau mau di bilang langka tidak juga sebab masyarakat di sini kan kebanyakan membuat minyak kelapa sediri. Sudah pasti, kondisinya tidak sama dengan di Sorong,” ujar Samsudin.

Samsudin menyebut, kelangkaan itu dirasakan oleh masyarakat yang ada di kota Waisai. Meski demikian, jumlah konsumen tidak sebanyak di Sorong.

Menurut Samsudin, inikan semacam isu sehingga menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Yang terjadi di Raja Ampat, berbeda, ketika terjadi antrean pembelian minyak goreng, antreannya habis akan tetapi stok minyak goreng masih ada.

Diakui Samsudin, saat terjadi kelangkaan, minyak goreng kemasan 5 liter harganya mencapai Rp 140.000, sedangkan harga minyak goreng curah Rp 40.000 per 5 liter. Kemasan premier satu liter, harganya dikisaran Rp 27.000 sampai Rp 34 000.

” Memang kenaikannya sangat signifikan sehingga dampaknya sangat terasa sekali,” kata Samsudin.

Samsudin menambahkan, kelangkaan minyak gpreng yang terjadi di Raja Ampat berlangsung sebulan. Namun, di minggu kedua bulan April, dinas perdagangan kabupaten Raja Ampat melepas 5,2 ton minyak goreng murah ke masyarakat. Hal ini sebagai langkah antisipasi mengjadapi haro raya Idul Fitri 1443 Hijriah.

Mengenai kuota, lanjut Samsudin, tidak ada, semuanya tergantung pengiriman dari Sorong. Meski sekarang sudah sedikit normal tetapi harganya masih dikisaran Rp 20.000-24.000, untuk minyak goreng curah, sedangkan migor kemasan di harga Rp 30.000.

” Khusus minyak goreng curah ini menyesuaikan dengan Peraturan Menteri Perdagangan yang terbaru,” kata Samsudin.

Samsudin menegaskan, kami masih bergantung pada Sorong. Lain halnya jika pengiriman migor ini menggunakan Tol Laut, harganya mungkin sedikit murah.

” Operasi pasar inipun di lakukan dua kali dalam setahun, yakni momen lebaran dan natal,” ucapnya.

Sebelumnya, kejaksaan negeri Sorong memeriksa tiga distributor minyak goreng yang ada di Sorong. Tiga distributor tersebut antara lain CV MIP, CV PS dan CV DM.


Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.