Ekonomi & Bisnis

Tetap Bertahan Meskipun Memperkecil Ukuran Tempe

Bagikan ini:

SORONG,sorongraya.co- Naiknya harga kedelai impor sejak dua tahun terakhir ini sangat berdampak bagi produsen tahu dan tempe di seluruh Indonesia.

Di Kota Sorong, sejumlah produsen tempe rumahan tak bisa berbuat banyak. Untuk bertahan di tengah kondisi seperti ini mau tak mau ukuran tempe terpaksa harus mereka perkecil.

Belum lagi setiap harinya biaya operasional harus dikeluarkan agar tetap berproduksi, meskipun hasil yang di dapat tak mampu menutup kerugian.

Salah satu produsen tempe asal Nganjuk, Arni mengungkapkan, naiknya harga kedelei berpengaruh pada hasil produksi.

Harga bahan baku kedelei yang sebelumnya Rp 560 ribu per karung 50 kg, sekarang harga naiknya Rp 580 ribu,” kata Arni, beberapa waktu lalu.

Arni mengaku, kita harus pintar-pintar menyikapinya agar bisa bertahan di tengah naiknya harga kedelei.

” Untuk menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tempe,” ujarnya.

Perempuan asal Nganjuk ini memastikan bahwa harga tempe masih dikisaran Rp 4.000-5.000, dengan berat 3 ons per bungkusnya.

Arni pun menambahkan, kalau sebelumnya pembeli membeli tempe satu karena ukurannya tebal, sekarang ini terpaksa membeli dua bungkus dikarenakan ukurannya yang tipis.

Belum lagi daya beli masyarakat yang mulai menurun, sekitar 20 persen dari sebelumnya.

Arni hanya berharap, harga kedelai bisa kembali stabil seperti semula sehingga produsen tempe tetap mempertahankan produksinya.

” Kita kalau mau menaikan harganya di tengah kondisi seperti ini sangat susah mengingat pembeli pasti akan lari ke produsen lainnya,” kata Arni.


Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.