SORONG,sorongraya.co– Duka mendalam menyelimuti keluarga Mayor Inf Dr. H. Triyana, S.Pd.I., M.Pd.I., setelah putra keduanya, Letda Inf Jihad Ahmad Al-Rasyid, S.Tr.(Han), meninggal dunia akibat insiden dugaan penembakan oleh rekan sejawatnya saat bertugas di Solo, Jawa Tengah.
Jenazah perwira pertama TNI Angkatan Darat yang bertugas di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu tiba di Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Minggu siang (25/10/2026), untuk selanjutnya disemayamkan di rumah duka di jalan Kanal Victory dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia Sorong.
Kedatangan jenazah diantar langsung oleh Komandan Grup 2 Kopassus, Brigjen TNI Edwin Apria Candra bersama isteri disambut suasana haru keluarga, kerabat, serta jajaran TNI. Ayah almarhum, Mayor Inf Dr. H. Triyana, saat ini menjabat Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 181/PVT Sorong, sedangkan ibunya, Hj. Zainab Jelfoom, S.IP., merupakan Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Sorong.
Dalam prosesi penghormatan terakhir, Komandan Korem 181/PVT Sorong, Brigjen TNI Slamet Riadi, bersama Komandan Grup 6 Kopassus, Brigjen TNI Richard Arnold Y. Sangari, memimpin upacara sejak dari rumah duka hingga pemakaman.
Ditengah suasana kehilangan, pihak keluarga yang diwakili Lantoga Sapua mempertanyakan sebab musabab almarhum meninggal dunia. Pada kesempatan itu mereka menerima informasi mengenai perkembangan penanganan kasus yang merenggut nyawa almarhum. Menurut keterangan yang disampaikan Danyon yang mengantar jenazah di hadapan keluarga, pelaku dalam insiden tersebut telah diproses oleh satuan Kopassus.
Meski demikian, perkembangan lebih lanjut terkait kronologi kejadian, motif, status hukum terduga pelaku, serta hasil pemeriksaan belum dijelaskan dalam informasi yang diterima. Proses penanganan perkara diharapkan dapat berjalan secara transparan dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Dalam kesempatan melayat, harapan agar kasus tersebut diusut secara terang juga disampaikan kepada anggota DPD RI, Hartono. Keluarga dan pihak yang hadir berharap ada pengawalan terhadap proses penegakan hukum agar peristiwa yang menewaskan almarhum memperoleh kejelasan dan keadilan.
Hartono pun bersedia membantu mengawal persoalan tersebut. Ia juga menghubungi Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI Rafael Granada Baay, agar perkembangan peristiwa ini mendapat perhatian. Persoalan tersebut juga direncanakan untuk ditanyakan dalam rapat dewan.
Bagi keluarga, kejelasan proses hukum menjadi hal penting di tengah duka yang mereka alami. Peristiwa yang menimpa Jihad diharapkan tidak berhenti pada penanganan internal semata, tetapi juga memberikan kepastian mengenai fakta kejadian dan pertanggungjawaban sesuai hukum.
Kepergian Jihad menjadi pukulan berat bagi keluarga Mayor Inf Triyana dan Hj. Zainab Jelfoom. Sebelumnya, putra sulung mereka telah meninggal dunia ketika masih berusia sekitar 16 tahun. Kini, Jihad, putra kedua yang baru kembali dari Rusia, juga meninggal dunia dalam insiden saat bertugas.
Keluarga kini hanya memiliki seorang putri bungsu bernama Nurul. Kehilangan dua putra dalam rentang waktu berbeda menjadi ujian berat bagi keluarga yang dikenal baik dan ramah di lingkungan masyarakat maupun pekerjaan.
Bagi orang-orang yang mengenal keluarga ini, duka tersebut menjadi pengingat bahwa setiap keluarga memiliki perjuangan dan ujian hidup yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Ditengah kehilangan yang mendalam, doa terus dipanjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan.
Allahummaghfir lahu warhamhu. Semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.(***)















