SORONG, sorongraya.co – Menyikapi insiden kematian Balita di Rumah Sakit Maleo Kota Sorong, Dewan Perwakilan Rakyat Kota Sorong akhirnya membentuk Panitia Khusus guna mendalami lebih lanjut peristiwa tersebut.
Wakil Ketua Pansus DPR Kota Sorong, Reynoldi Rumfeka mengaku jika pihaknya telah membentuk Pansus pada Rabu 29 Juli 2026. Pansus tersebut akan bekerja untuk melakukan langkah-langkah guna mendalami peristiwa itu
Tim pansus sendiri terdiri dari 15 anggota DPR yang diutus dari fraksi dan melakukan pendalaman kurang lebih tiga hari sejak pansus dibentuk. Pihaknya juga akan meminta masukan dari keluarga korban maupun penjelasan dari pihak rumah sakit.
“Tim pansus akan meninjau kembali masukan dari keluarga korban. Mungkin kami juga butuh penjelasan dari pihak rumah sakit, sehingga dari data tersebut kami simpulkan menjadi rekomendasi,” tutur Reynoldi.
Selama tiga hari kerja itu Pansus DPR akan melakukan pembobotan secara serius mengenai penanganan di rumah sakit Maleo. Ia berharap kerja pansus DPR dapat dimaksimalkan sehingga membuahkan hasil yang baik.
“Kami harap kerja-kerja ini bisa dimaksimalkan sehingga bisa mendapat hasil yang baik, dan kedepan ada perbaikan serius di pelayanan medis rumah sakit swasta yang ada di kota sorong,” tutur Reynoldi.
Sebagaimana diketahui bahwa kasus dugaan kelalain Perawat di Rumah Sakit Maleo ini berawal dari adanya unggahan ibu korban di media social facebook. Unggahan tersebut menjadi perhatian publik setelah akun bernama Yuliasti Nasir, menceritakan lambatnya penanganan pasien oleh petugas Rumah Sakit Swasta Maleo Kota Sorong, yang berujung meninggalnya sang anak.
Dalam unggahan disertai video, Yuliasti menceritakan anaknya dibawa ke Instalasi Gawat Darurat RS Maleo karena mengalami muntah sejak malam sebelumnya, hingga kondisinya lemas. Menurut pengakuannya, anak tersebut kemudian dipasang infus dan diambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium.
Ironisnya, sampel darah yang diambil petugas sejak malam tidak dikirim ke Laboratorium untuk dicek penyebab anak itu sakit. Ketika Yuliasti menanyakan hasil pemeriksaan darah, perawat RS Maleo dengan enteng mengatakan akan melakukan pengambil darah ulang, karena darah yang diambil sejak malam tidak diperiksa.
Tak hanya itu, dalam unggahannya ia mengaku anaknya mengalami kejang berulang kali selama menjalani perawatan di RS Maleo. Yuliasti menilai penanganan yang diberikan perawat sangat lambat, bahkan ia beberapa kali meminta agar anaknya dirujuk ke rumah sakit lain, namun baru dipenuhi setelah kondisinya semakin memburuk.
Menurut pengakuannya, setelah akhirnya dirujuk ke rumah sakit Pemerintah Kabupaten Sorong di kilometer 22, kondisi anaknya makin kritis. Meski sempat mendapatkan tindakan medis dan dirawat di ruang ICU selama lima hari, anak tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Akibat peristiwa itu, Dinas Kesehatan Kota Sorong akhirnya mengambil langkah untuk mengaudit RS Maleo. Dari hasil audit tersebut, Dinas Kesehatan Kota Sorong memberikan sanksi kepada RS Maleo.















