Scroll untuk baca artikel
MetroTanah Papua

Cukup dari Sampel Air Laut, Ilmuwan Indonesia Kembangkan Metode eDNA Pertama Deteksi Hiu 

×

Cukup dari Sampel Air Laut, Ilmuwan Indonesia Kembangkan Metode eDNA Pertama Deteksi Hiu 

Sebarkan artikel ini
Sumber Foto (Edy Setyawan)

JAKARTA, sorongraya.co-Kolaborasi internasional yang dipimpin para ilmuwan Indonesia berhasil mengembangkan metode berbasis environmental DNA (eDNA) untuk mendeteksi hiu berjalan (walking shark) di perairan Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Melalui metode ini, peneliti cukup mengambil beberapa liter sampel air laut untuk melacak “jejak” materi genetik seperti sel kulit, lendir, maupun kotoran yang ditinggalkan hiu, tanpa perlu menyelam atau menangkap hewan tersebut secara langsung.

Pengumuman keberhasilan riset ini dilakukan bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang diperingati setiap 22 Mei. Tim ilmuwan yang terlibat berasal dari Elasmobranch Institute Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Konservasi Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, serta Re:Wild.

Metode eDNA tersebut dirancang khusus untuk mendeteksi genus hiu berjalan (Hemiscyllium spp.), spesies endemik yang dikenal sulit diamati secara langsung karena aktif pada malam hari dan sering bersembunyi di celah-celah karang.

Selain mempermudah pemantauan, metode ini juga dinilai lebih aman bagi peneliti karena dapat mengurangi risiko perjumpaan dengan satwa berbahaya seperti buaya air asin yang hidup di habitat yang sama.

Riset yang baru dipublikasikan dalam jurnal internasional Environmental DNA itu memperkenalkan primer genetik baru bernama ES-200ND4 yang menargetkan gen mitokondria NADH4 hiu berjalan. Ini menjadi pertama kalinya gen NADH4 digunakan sebagai penanda eDNA di lingkungan laut.

Dalam pengujian laboratorium, primer tersebut terbukti mampu mendeteksi DNA hiu berjalan meski dalam konsentrasi yang sangat rendah.

Sementara itu, uji coba lapangan yang dilakukan di Kepulauan Raja Ampat pada Desember 2024 menunjukkan hasil yang sangat efektif. Dari tujuh lokasi pengujian, hiu berjalan endemik Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti) yang dikenal masyarakat lokal sebagai Mandemor atau Kalabia, berhasil terdeteksi di enam lokasi melalui sampel eDNA.

Primer ES-200ND4 juga menunjukkan tingkat spesifisitas tinggi terhadap hiu berjalan tanpa mendeteksi spesies non-target lainnya.

“Primer baru ES-200ND4 yang kami kembangkan memungkinkan deteksi DNA spesifik hiu berjalan secara akurat dari sampel air laut tanpa perlu menangkap individunya. Ini merupakan terobosan genetika penting yang mendukung upaya konservasi berbasis bukti,” ujar peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Dr. Danang A. Prabowo.

Primer tersebut dikembangkan bersama dua peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, yakni Dr. Andhika Prima Prasetyo dan Dr. Sutikno.

Temuan menarik juga diperoleh dari perairan Dayan di utara Pulau Batanta. Sebelumnya, keberadaan hiu berjalan di wilayah itu hanya diketahui dari cerita masyarakat setempat dan belum pernah terkonfirmasi melalui pengamatan visual.

Namun, melalui pengambilan sampel eDNA pada siang hari, peneliti berhasil mendeteksi keberadaan hiu tersebut secara jelas.

“Uji coba lapangan kami di Raja Ampat menunjukkan bahwa eDNA dapat melengkapi keterbatasan pengamatan visual, terutama untuk spesies yang aktif pada malam hari atau bersembunyi di habitat kompleks,” ungkap Dr. Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist Elasmobranch Institute Indonesia sekaligus penerima Pew Fellowship 2025 bidang konservasi laut.

Menurutnya, metode ini menjadi opsi pemantauan yang tidak invasif, aman, dan dapat diandalkan untuk spesies yang dilindungi, termasuk untuk deteksi pada siang hari.

Hiu berjalan sendiri dikenal unik karena mampu “berjalan” di dasar laut menggunakan sirip dada dan sirip perutnya. Spesies ini hanya ditemukan di Indonesia timur, Papua Nugini, serta Australia bagian utara dan timur.

Dengan wilayah sebaran yang sangat sempit, hiu berjalan menjadi salah satu kelompok hiu yang rentan terhadap kerusakan terumbu karang dan dampak perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2023 telah memberikan perlindungan penuh terhadap seluruh spesies hiu berjalan. Namun, implementasi kebijakan tersebut dinilai membutuhkan data distribusi spesies yang akurat.

Karena itu, metode eDNA yang cepat, murah, dan tidak invasif dinilai sangat potensial mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis sains.

“Teknologi ini memberikan harapan baru bagi konservasi berbasis sains, terutama untuk biota yang terancam punah. Metode yang aman dan tidak invasif memungkinkan pemantauan yang lebih luas dan akurat,” kata Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata.

Ke depan, metode eDNA ini diharapkan tidak hanya digunakan di Raja Ampat, tetapi juga untuk mendeteksi dan memetakan distribusi hiu berjalan di wilayah lain di Indonesia timur seperti Halmahera, Teluk Cenderawasih, Fakfak, Kaimana, hingga negara lain.

“Setelah menghabiskan ratusan jam melakukan survei hiu berjalan pada malam hari yang sering kali tidak membuahkan hasil, saya sangat senang melihat teknik baru yang sangat efektif ini berhasil dikembangkan,” ujar Shark Conservation Director Re:Wild, Dr. Mark Erdmann.

Ia juga mengapresiasi rencana tim Indonesia untuk membagikan metode tersebut kepada para peneliti di Papua Nugini sebagai bentuk kolaborasi ilmiah antarnegara berkembang.

Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional menjadi pengingat bahwa inovasi ilmiah memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Di tengah tantangan konservasi yang semakin kompleks, pendekatan eDNA menawarkan cara baru yang lebih efektif, efisien, dan minim gangguan dalam melindungi kekayaan hayati laut Indonesia.(***)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.