TEMINABUAN, sorongraya.co – Koordinator Caretaker Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Sorong, Fauzan Fadly Somar menjelaskan keberadaanya sebagai Caretaker HMI Cabang Sorong pada Konferensi HMI ke-XV.
Dihadapan peserta Konferensi Fauzan mengaku jika dirinya ditugaskan oleh PB HMI untuk menjalankan Konferensi HMI Cabang Sorong.
Mengenai turunnya caretaker, menurutnya karena adanya dua draft hasil konferensi HMI Cabang Sorong yang disampaikan kepada PB HMI.
“Saat itu sempat terjadi dua forum pelaksanaan Konfercab yang dilakukan oleh teman-teman di bawah (cabang Sorong), maka muncullah persoalan baru,” terang Fauzan.
Karena terdapat dua berkas dan kedua forum tersebut dianggap tidak berlandaskan konstitusi, sehingga PB HMI mengambil keputusan untuk melakukan karateker.
Tim karateker diutus oleh PB HMI, dalam hal ini melalui Bidang PAO, untuk melakukan proses regenerasi dan menjalankan konferensi cabang.
Hanya saja, Lanjut Fauzan ketika proses karateker dilakukan, memang tidak ada pengesahan khusus terkait siapa saja nama-nama yang masuk dalam tim karateker, sebab penyusunannya dilakukan secara internal.
“Mungkin itu yang membuat beberapa teman menganggap bahwa SK tersebut berubah atau dianggap tidak jelas. Padahal sebenarnya penjelasannya sederhana. Perubahan terkait SK hanya terdapat pada bagian lampiran. Kenapa hanya lampiran? Karena yang berubah hanyalah nama-nama tim yang ditugaskan sebagai karateker oleh PB HMI melalui Bidang PAO,” ujar Fauzan.
Perubahan SK Caretaker.
Perubahan dari saudara Syawal Tamher sebagai koordinator merupakan perintah langsung dari PB HMI. Jika ditanya apakah sah atau tidak, kata Fauzan tentu saja sah, karena hal tersebut bisa dikonfirmasi langsung melalui Bidang PAO PB HMI.
“Tidak mungkin dilakukan perubahan tanpa koordinasi dan persetujuan dari Bidang PAO PB HMI,” pungkasnya.
Menyangkut nomor surat SK Caretaker, kata Fauzan tidak harus berubah, karena perubahan hanya pada lampiran. Kecuali apabila ada keputusan baru terkait Cabang Sorong, maka akan diterbitkan surat baru dengan nomor surat yang berbeda.
“Substansi surat tetap sama, yaitu melakukan karateker terhadap Cabang Sorong. Yang berubah hanya lampirannya, termasuk pergantian saudara Syawal sebagai koordinator karena beliau mendapat penugasan karateker di tempat lain,” terangnya.
Dalam proses berjalannya konferensi, Fauzan mengaku seharusnya seluruh tim karateker yang dikoordinatori oleh koordinator karateker, saling membangun komunikasi dan koordinasi agar tercipta satu forum bersama.
“Ada anggota karateker, dalam hal ini Alexander Sagey yang tidak melakukan koordinasi, walaupun beliau sudah membentuk kepanitiaan dan sebagainya. Padahal, setelah adanya perubahan nama dan struktur, saya sudah melakukan upaya komunikasi secara personal. Kami bertiga juga tergabung dalam satu grup yang berisi saya sebagai koordinator, Umran, dan Alex sebagai anggota. Namun dalam grup tersebut, komunikasi hanya berjalan antara saya dan Umran. Alex tidak pernah merespons seluruh chat di grup, termasuk ketika saya dan Umran membentuk grup baru yang diisi oleh teman-teman komisariat di Cabang Sorong,” jelasnya.
Sebelum rapat dilaksanakan, Fauzan mengaku sempat melakukan kordinasi dengan bahwa teman-teman yang ingin mengikuti Zoom meeting bersama tim karateker wajib mengirimkan SK kepengurusan terlebih dahulu.
Hal itu dilakukan sebagai dasar legalitas dan bukti bahwa yang mengikuti rapat memang benar-benar pengurus komisariat yang sah.
Bahkan sampai pada tahapan rapat bersama tim karateker dan komisariat, seluruh komisariat hadir, mulai dari Komisariat Hukum, FISIP, FKIP, dan lainnya.
Dari total delapan komisariat tersebut, muncul berbagai perdebatan dari teman-teman komisariat, termasuk dari Hukum dan komisariat lainnya. Meski begitu perdebatan itu tidak menutup ruang agar proses konferensi tetap berjalan.
Pembentukan Panitia Konferensi.
Dari hasil rapat tersebut, akhirnya dibentuk kepanitiaan dengan menunjuk saudara Mahmud Seknun sebagai Ketua Panitia beserta jajaran panitia lainnya untuk melangsungkan konferensi.
“Setelah rapat selesai, kami menyusun timeline dan tahapan kerja, mulai dari pengambilan formulir, pengembalian formulir, pengumuman SK kelulusan, hingga penentuan tanggal pelaksanaan konferensi yang akhirnya terselenggara pada tanggal 13 Mei, bertepatan dengan 28 Dzulqa’dah 1447 Hijriah di Teminabuan,” pungkasnya.
Setiba di Sorong, Fauzan mengaku sempat menghubungi Alex melalui chat.
“Kurang lebih saya mengatakan, Bro, saya sudah di Sorong. Ayo kita jumpa. Saya juga menyampaikan bahwa walaupun beliau berasal dari Cabang Sorong, tetapi kita semua adalah pengurus PB HMI. Pengurus PB HMI memiliki tanggung jawab mengurusi seluruh cabang se-Indonesia bahkan luar negeri, tanpa melihat asal cabang apakah Sorong, Merauke, Jayapura, atau daerah lainnya,” beberapa Fauzan.
Meski begitu Fauzan mengaku Alex enggan bertemu dan tidak melakukan upaya penyatuan forum. Kata Fauzan dirinya sudah mengajak sesama koordinator dapat duduk bersama.
“Saya juga menyampaikan bahwa saya masih berada di Sorong dan belum menuju Sorong Selatan, sehingga jika memungkinkan Alex bersama teman-teman yang sebelumnya membuka forum dapat hadir untuk melaksanakan forum bersama. Biarkan kandidat dan komisariat bertarung dalam forum. Sedangkan kami para karateker mengambil posisi netral hanya sebagai penyelenggara konferensi, sebatas itu,” tutur Fauzan.
Ia mengaku setelah itu ada beberapa nomor baru yang menghubungi melalui telepon maupun chat, namun penjelasannya tetap sama seperti yang telah disampaikan sebelumnya.
“Sebenarnya, besar harapan saya bahwa proses pelaksanaan konferensi yang telah selesai ini menjadi tanggung jawab saya sebagai Koordinator Karateker untuk membawa seluruh berkas dan pembahasannya melalui rapat harian PB HMI,” ujarnya.
Namun sebelum masuk ke rapat harian, berkas tersebut terlebih dahulu dibahas melalui rapat Bidang PAO. Setelah dibahas di Bidang PAO, maka akan direkomendasikan untuk disahkan melalui rapat harian.
Terkait adanya gesekan antara para senior di Cabang Sorong, Fauzan menyampaikan permohonan maaf karena hal tersebut bukan domainnya untuk terlibat lebih jauh.
“Kalau ada senior yang melakukan chat ataupun komplain secara personal, bukan berarti saya tidak peduli, tetapi memang sejak awal saya tidak tahu harus menghubungi senior yang mana, karena saya bukan berasal dari Cabang Sorong. Saya berharap Alex dapat membangun koordinasi yang baik dan menunjukkan arah terkait siapa saja yang perlu dihubungi. Namun karena ruang koordinasi ditutup, akhirnya saya hanya berkoordinasi dengan teman-teman komisariat dan menjalankan tugas sebagai karateker yang dipanggil ke Sorong untuk menyelenggarakan konferensi sebagai bentuk tanggungjawab dan kewajiban,” ujarnya.













