JAKARTA, sorongraya.co – Sebagai seorang senator yang mewakili masyarakat Papua Barat Daya, Agustinus R Kambuaya tentu melihat adanya kesenjangan yang terjadi ditengah masyarakat papua. Ia bahkan menyampaikan pesan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto mengenai kondisi Papua saat ini melalui whats app.
Tulisan dengan Judul “Bapak Presiden Prabowo Ingin Jadi Juru Damai Untuk Iran. Bapak Jangan Lupa Orang Papua Dan Tanah Papua” mendapat beragam tanggapan positif dari pembaca. Mereka menilai apa yang disampaikan Agustinus Kambuaya merupakan bentuk kepeduliannya kepada masyarakat Papua Barat Daya.
Berikut Pesan Pesan Senator Agustinus R Kambuaya kepada Presiden RI Prabowo Subianto :
Izinkan saya menulis pesan singkat ini. Sebab saya yakin, pembisik Bapak yang dari Papua belum menyampaikan ini ke telingga bapak. Sehingga bapak masih melihat Papua sama seperti Indonesia lain.
1945 Indonesia Merdeka. 1969 Pepera Papua Masuk NKRI. 30 Tahun Orde Baru Soeharto Papua Di Lupakan. Pendekatan Militer Dan Sentralisasi Pemerintahan.
1998 Reformasi Dan 2001 Papua Baru Di Berikan Otsus. 1969-2001 Papua Di Teras Rumah NKRI. Papua Baru Mulai Dinamika Pembangunan Setelah Otsus. Itupun Masih Banyak Kekurangan Sana-sini. Sulit Menilai Papua Pakai Standar Pendekatan Pembangunan yang ketat.
Sumberdaya Manusia Papua Baru Di Bangun 20 Tahun, Infrastruktur Papua Yang Luasnya Sperti Benua baru di bangun. Keterisolasian Wilayah belum di conecsikan.
Infrastruktur dan supra struktur masih tahap awal. Puluhan Ribu Pengungsi Papua Belum Pulang Ke Rumah Mereka. Papua Tanah Damai Masih Jadi Tanah Bayang-bayang Investasi dan Perampasan Tanah.
Program MBG Di Kota Sorong Tujuannya untuk 20.000 Anak. Itu di luar dari Program Bayi, Ibu Hamil Dan Lansia.
Koperasi Desa Merah Putih Belum Jalan. Dana Desa di pangkas.
Kebijakan Efisiensi Menghambat Papua Menyeberang Dari Jurang Penderitaan Stunting, Angka Putus Sekolah. Belum ada RSUD Representatif. Banyak orang Meninggal tidak tertolong di Desa-desa, sebab jarak antara desa dan rumah sakit layak masih Jauh Dari Cita-cita Proklamasi.
80 Tahun NKRI, Papua Baru Ada Di Halaman Rumah, Teras NKRI Setelah Otsus 2001. Itupun Masih banyak dinamika.
Kewenangan Otsus Seperti Hubungan Cinta yang di sertai kecurigaan. Kewenangan di berikan setengah hati. Lepas kepala pegang Ekor.
Kepala daerah di beri beban tugas yang berat, di suruh bekerja keras kejar target tetapi Kewenangan dan Anggaran Di Pangkas. Ini yang di sebut Sentralisasi Gaya Baru
Bapak Presiden, Bersimpati Kepada Iran, Tetapi Menjadi Juru Selamat Bagi Bangsa Sendiri di Papua Juga Penting.














