MetroTanah Papua

Hutan dan Laut Menjaga Nafas Papua Barat Daya

×

Hutan dan Laut Menjaga Nafas Papua Barat Daya

Sebarkan artikel ini
Alfons Kambu, Ketua Majelis Rakyat Papua Barat Daya

Penulis: Alfons Kambu, adalah Ketua Majelis Rakyat Papua Barat Daya.

SORONG, sorongraya.co – Filosofi masyarakat adat di wilayah Kepala Burung, Papua Barat Daya, bukanlah sekadar metafora puitis untuk pemanis pidato lingkungan. Ketika mereka berujar, “Hutan adalah Mama, Laut adalah Bapa,” mereka sedang menyatakan sebuah realitas ontologis yang mendalam.

Bagi masyarakat adat setempat, alam bukan sekadar “sumber daya”, melainkan orang tua yang memberi makan, melindungi, dan mendefinisikan jati diri. Analogi ini menempatkan ekosistem dalam ruang paling intim dalam psikologi manusia keluarga.

Bagi suku Moi yang mendiami daratan Sorong, hutan adalah Mama. Dalam tradisi mereka, dikenal konsep Knola, yakni ruang-ruang hutan yang dianggap keramat dan tidak boleh disentuh. Hutan disebut Mama karena fungsinya yang menyusui; dari rahimnya, air mengalir untuk diminum dan sagu tumbuh sebagai nutrisi utama.

Namun, “sang Mama” kini tengah dirundung kecemasan. Berdasarkan data hingga awal 2026, meski Provinsi Papua Barat Daya masih memiliki sekitar 89% tutupan hutan, laju deforestasi terus mengintai.

Laporan mencatat hilangnya hutan primer di Tanah Papua mencapai angka 25.300 hektare pada tahun sebelumnya. Bagi orang Moi, setiap hektare hutan yang hilang adalah sobekan pada rahim yang selama ini menyusui mereka.

​Bergeser ke arah laut, masyarakat di Kepulauan Raja Ampat (seperti suku Maya dan Matbat) memandang laut sebagai Bapa. Laut adalah sosok penjaga yang tangguh, penyedia protein yang melimpah, sekaligus pemberi arah hidup.

​Kekuatan filosofi ini termanifestasi dalam tradisi Sasi—sistem pelarangan pengambilan hasil laut dalam jangka waktu tertentu. Ini adalah bentuk “disiplin Bapa” kepada anak-anaknya agar tidak serakah. Namun, kedisiplinan ini kini ditantang oleh ancaman tambang di pulau-pulau kecil dan polusi maritim. Jika Bapa Laut tercemar, masyarakat kehilangan bukan hanya sumber pangan, tapi juga martabat sebagai pelaut ulung.

​Kerusakan lingkungan di Papua Barat Daya adalah sebuah duka keluarga yang melampaui statistik ekologi. Ketika hutan gundul dan laut rusak, rasanya persis seperti kehilangan orang tua. Bagaimana mungkin seorang anak bisa tenang jika rumah dan sumber hidupnya dihancurkan?

  • ​Kehilangan Identitas: Tanpa hutan dan laut yang sehat, ritual adat kehilangan medianya.
  • ​Kerentanan Pangan: Hilangnya akses ke “pasar swalayan alam” milik Mama dan Bapa memaksa masyarakat bergantung pada pangan impor.
  • ​Trauma Generasional: Anak cucu yang lahir tanpa mengenal rimbunnya hutan akan tumbuh menjadi yatim piatu secara ekologis.

Warisan yang Terancam

​Dunia internasional mungkin sibuk mencari teknologi mitigasi iklim, namun jawaban paling jujur ada di Kepala Burung: menjaga alam adalah soal menjaga “Mama” dan “Bapa” agar tetap bernapas. Jika data statistik terus menunjukkan tren penurunan tutupan hutan, itu artinya kita sedang membiarkan sebuah peradaban menjadi yatim piatu. Dan pada akhirnya, jika Mama dan Bapa itu hilang, kita semua akan menyadari bahwa tidak ada teknologi yang bisa menggantikan dekapan perlindungan dari alam yang lestari.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.