Massa aksi saat orasi menuju Kantor Bupati
Metro

Tolak Rasisme, Masyarakat Adat Wilayah III Doberay R4 Gelar Aksi Demo Damai

Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WAISAI,sorongraya.co – Merespon insiden pengusiran, intimidasi dan rasisme yang terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, 16 Agustus 2019 lalu, masyarakat Adat Wilayah III Doberay Kabupaten Raja Ampat menggelar aksi solidaritas.

Ratusan massa yang tergabung dalam demo damai tersebut melakukan long march dari pantai Waisai Torang Cinta (WTC) menuju kantor DPRD Raja Ampat selanjutnya ke Kantor Bupati Raja Ampat dan dikawal ketat oleh aparat TNI/Polri setempat. Rabu 21 Agustus 2019.

Sesampai di kantor DPRD massa meminta agar Ketua DPRD bersama sejumlah anggotanya untuk bersama-sama mendatangi kantor Bupati dengan berjalan kaki sebagai wujud aspirasi mereka kepada Bupati agar disampaikan ke Presiden RI.

Setiba di halaman kantor Bupati, Koordinator aksi demo Donald Renato Heipon dalam orasinya mengatakan, ini bukan hal baru orang Papua sering dikatakan “monyet”, tetapi sudah terjadi berulang kali. “Bupati juga orang Papua, apa bapak Bupati terima jika dikatakan monyet,? Tentu tidak. Itu sebabnya kami datang untuk menyampaikan pernyataan sikap, dan kami datang bersama Ketua beserta anggota DPRD Raja Ampat,”kata Donald

Mewakili massa aksi, Ketua DPRD Raja Ampat, Reinold M. Bula, SE M.Si yang juga turut serta menyerahkan 3 poin aspirasi yang selanjutnya diserahkan kepada Bupati untuk ditindaklanjuti ke Pemerintah pusat.

Bupati dan Wakil Bupati Raja Ampat bersama Anggota Dewan san Masyarakat Adat

 

Berikut 3 Poin Aspirasi Massa

 

  1. Mendata Pelajar dan Mahasiswa Papua asli Raja Ampat dan mengamankan mereka yang berada di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi
  2. Mendesak pihak keamanan yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk segera menangani dan memproses pelaku Diskriminasi Rasial (MONYET) terhadap orang Papua di Malang, Surabaya dan Makasar
  3. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat dalam hal ini, Bupati agar segera menyatakan sikap bersama DPRD Raja Ampat, untuk mengutuk keras tindakan Persekusi dan Rasisme terhadap mahasiswa Papua dan Papua Barat

Menyikapi hal ini, Bupati Kabupaten Raja Ampat Abdul Faris Umlati, SE yang menyambut massa aksi memberikan apresiasi kepada masyarakat adat Doberay yang sudah datang untuk menyampaikan aspirasi. “Sebagai anak adat (Papua) jelas saya juga tidak ingin dikatakan binatang apalagi dikatakan monyet, karena semua manusia sama dimata Tuhan,”ujar AFU.

Menurutnya AFU, aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat adat manusiawi dan ia percaya sebagai anak papua yang memiliki satu wilayah adat yang harus dijunjung tinggi dalam hal apapun dan dalam suasana apapun.

“Tentunya, hal ini sangat menyakiti kita semua, dan siapapun dia pasti akan marah, tetapi sebagai anak adat, kita harus berdamai, karena tanah ini sudah diberkati. Aspirasi ini diterima dan akan ditindaklanjuti,”pungkasnya. [dav]


Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.