Kepala Sub Seksi Penuntutan Pidsus Kejaksaan Negeri Sorong, Imam Ramdhoni.
Hukum & Kriminal

Tak Diketahui Keberadaannya, Berkas Perkara Kedua Dugaan Korupsi KUR Dilimpahkan Tanpa Tersangka

Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SORONG,sorongraya.co- Kejaksaan Negeri Sorong telah melimpahkan berkas perkara dugaan korupsi Kredit Usaha Rakyat Bank BRI Cabang Sorong atas nama tersangka Sukri Irawan alias Dermawan Sukriansyah secara in absensia ke Pengadilan Tipikor Manokwari pada Rabu kemarin (04/11/2020).

Meski berkas perkara telah dilimpahkan ke PN Tipikor Manokwari, namun keberadaan tersangka Sukri Irawan alias Darmawan Sukriansyah belum diketahui hingga saat ini.

Dalam perkara dugaan korupsi KUR tahun 2017 silam, Kejaksaan Negeri Sorong menetapkan 2 orang tersangka atas nama Jansen Aldrin Sahentumbage yang telah divonis bersalah oleh Mahkamah Agung beberapa waktu lalu. Dan kini tengah menjalani mssa hukuman di Lapas Manokwari. Sementara satu tersangka lainnya, yaitu Sukri Irawan belum diketahui keberadaannya,” kata Kasubsi Penuntutan Pidsus Kejaksaan Negeri Sorong, Imam Ramdhoni.

Lebih lanjut Doni mengatakan, sejak pemanggilan pertama pada saat status yang bersangkutan masih sebagai saksi tidak pernag hadir. Ketika kami mengonfirmasi ke Kelurahan Klasabi, akan tetapi menurut keterangan Lurah Klasabi tidak ada yang bernama Sukri Irawan alias Darmawan Sukriansyah.

Begitupun ketika yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka, dipanggil tiga kali, tersangka Sukri Irawan alias Darmawan Sukriansyah tidak hadir.

Tak sampai disitu, tim pidsus kejari Sorong lalu melakukan pengecekan melalui Nomor Induk Kependudukan, alhasil, KTP yang dipergunakan tersangka Sukri Irawan ini palsu. Makanya kamj mengalami kesulitan.

Upaya lainnya yang dilakukan, lanjut Doni, kami melayangkan panggilan sebagai tersangka di media cetak. Tersangka yang terkenal suka berpindah-pindah tempat ini tak hadir. Hingga kejaksaan negeri Sorong mengeluarkan DPO berdasarkan Surat Penetapan DPO nomor print 01.T.1.13/FD/7/2019 dari Kajari Sorong. Kami pun meminta bantuan dari Polres Sorong Kota, hingga memohon tindakan pencarian kepada Kajati Papua, yang selanjutnya diteruskan kepada seluruh kajari di Papua dan Papua Barat. Lagi-lagi tersangka yang memiliki banyak nomor HP ini tidak datang ke kajari Sorong untuk diperiksa sebagai tersangka,” ungkap Doni.

Doni pun mengakui bahwa pihaknya pernah menghubungi salah satu nomor HP yang dimiliki tersangka, tersambung dan diketahui bahwa tersangka berada di Makassar. Selanjutnya, kami tidak tahu dimana sebenarnya tersangka berada. Inilah yang membuat kami tidak bisa menindaklanjutinya.

Atas dasar yang ada, kami melakukan pelimpahan berkas perkara secara in absensia ke PN Tipikor Manokwari. Selain itu, kami belum bisa memastikan kapan persidangannya dimulai, masih menunggu keputusan Ketua PN Tipikor Manokwari,” tambah Doni.

Doni yang dijumpai di kantornya, Kamis kemarin menceritakan peran daripada tersangka Sukri Irawan. Dalam kasus yang merugikan keuangan negara sebesar 4,3 miliar ini, Sukri Irawan berperan sebagai calo sekaligus debitur KUR, dengan nilai permohonan 500 juta rupiah.

Setelah berkenalan dengan Jansen Aldrin Sahentumbage, Sukri Irawan dimintai tolong mencarikan debitur KUR oleh terpidana Jansen Aldrin Sahentumbage. Sukri Irawan lalu mencarikan debitur KUR sebanyak 11 orang. Belakangan diketahui bahwa 11 debitur yang diajukan oleh Sukri Irawan ini tidak memiliki usaha yang layak. Padahal salah satu syarat mendapatkan KUR, harus memiliki usaha yang layak.

Untuk mengelabui bank BRI Cabang Sorong, Sukri Irawan membuat usaha, seolah-olah layak untuk mendapat KUR, yang mana platformnya berkisar 250-500 juta rupiah. Salah satu debitur dengan nilai pengajuan KUR sebesar 500 juta, hanya mendapatkan 75 juta rupiah, sedangkan sisanya diambil oleh Sukri Irawan lalu dibagi ke terpidana Jansen Aldrin Sahentumbage. Dari 11 debitur yang mengajukan KUR, Sukri Irawan memperoleh keuntungan hingga miliaran rupiah,” ujar Doni.

Doni menambahkan, atas perbuatannya, Sukri Irawan kami jerat dengan pasal 2 jo pasal 18, pasal 3 jo pasal 18 UU Tipikor jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelumnya, berdasarkan putusan Mahkamah Agung terpidana kasus korupsi Kredit Usaha Rakyat Bank Rakyat Indonesia Cabang Sorong, Jansen Aldrin Sahentumbage divonis 7 tahun penjara, denda 250 juta rupiah, subsider 5 bulan penjara serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 4.433.835.015, subsider 3 tahun penjara.

Mantan pegawai pada bank plat merah ini terbukti melanggar Pasal 2 jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.(jun)


Bagikan ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.